Abendanon, E. C.

1910 Onderzoek van Centraal-Celebes: Tocht van Rante Pao naar de Masoepoe- en de Mamasa-rivier en over het Lette-gebergte naar de Sadang-monding” 79-106; “Vervolg: Beschrijving van het meergebied ten oosten van Malili” 506-29; “Vervolg: Tochten van Palopo, langs het Poso-meer, naar Kolone Dale van de Aomori-Baai naar de Golf van Tomini; van Poso naar en om het Poso-meer” 979-1001; “Vervolg: Tocht van het Poso-meer naar den mond van de Lariango-rivier” 1219-33(Eksplorasi Sulawesi Tengah: Perjalanan Rante Pao ke Sungai Masupu dan Mamasa dan Melewati Pegunungan Lette ke Muara Sadang” 79-106; “Lanjutan: Deskripsi Kawasan Danau Timur Malili” 506-29 Lanjutan: Perjalanan dari Palopo, Menyusuri Danau Poso, ke Kolone Dale dari Teluk Tomori ke Teluk Tomini; dari Poso ke dan sekitar Danau Poso” 979-1001; “Lanjutan: Tour dari Danau Poso ke muara Sungai Lariang). Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap Series dua, Jilid 27.
1915a Midden- Celebes-Expeditie. Geologische en geographische doorkruisingen van Midden-Celebes (1909–1910),  Vol. 1,  (Ekspedisi Sulawesi Tengah. Penyeberangan Geologi dan Geografis Sulawesi Tengah (1909–1910), Vol. 1) (Leiden, The Netherlands: E. J. Brill)
1915b Midden- Celebes-Expeditie. Geologische en geographische doorkruisingen van Midden-Celebes (1909–1910), Vol. 2. (Ekspedisi Sulawesi Tengah. Penyeberangan Geologi dan Geografis Sulawesi Tengah (1909–1910), Vol. 2) (Leiden, The Netherlands: E. J. Brill.)
1917 Midden- Celebes-Expeditie. Geologische en geographische doorkruisingen van Midden-Celebes (1909–1910), Vol. 3 Palaeontologie, Petrographie. (Ekspedisi Sulawesi Tengah. Penyeberangan Geologi dan Geografis Sulawesi Tengah (1909–1910), Vol. 3) (Leiden, The Netherlands: E. J. Brill.)
1917-18 Midden-Celebes- Expeditie. Geologische en geographische doorkruisingen van Midden-Celebes (1909–1910), Vol 4. (Ekspedisi Sulawesi Tengah. Penyeberangan Geologi dan Geografis Sulawesi Tengah (1909–1910), Vol. 4) (Leiden, The Netherlands: E. J. Brill.)

Adatrechtbundel

1914 Serie O. Het Toraja Gebied(Serie O: Wilayah Sulawesi Tengah) Adatrechtbundel IX (Celebes) (‘s Gravenhage: Martinus Nijhoff)
1919 Serie O. Het Toraja Gebied(Serie O: Wilayah Sulawesi Tengah) Adatrechtbundel XVII (Celebes) (‘s Gravenhage: Martinus Nijhoff)
1929 Serie N. Gegevens over Parigi (1926); Serie O. Het Toraja Gebied(Serie N. Tentang Parigi (1926): Serie O: Wilayah Sulawesi Tengah) Adatrechtbundel XVII (Celebes) (‘s Gravenhage: Martinus Nijhoff)
 1933 Serie P. Zuid Celebes No. 77 Gegevens over Mandar en Andere Landschappen van Zuid Celebes, verzameld door Dr. J. Mallinckrodt (1928-1929)” (Serie P. Sulawesi Selatan No. 77 Nota tentang Mandar dan Lanskap Lainnya di Sulawesi Selatan, dikumpulkan oleh Dr. J. Mallinckrodt (1928-1929)Adatrechtbundel XXXVI (Borneo, Zuid-Celebes, Ambon enz) (‘s Gravenhage: Martinus Nijhoff).

Adriani, N.

1897 “Over het Tussenzetsel in het Baree en Eenige Verwante Talen” (Tentang Interposisi dalam Bahasa Bare’e dan Beberapa Bahasa TerkaitTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 34: 496-528. (Terjemahan dalam Bahasa Inggris).
1898a “Overzicht over de Talen van Midden Celebes” (Gambaran umum mengenai bahasa-bahasa di Sulawesi Tengah) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 42: 536-585. Penulis menyebut adanya 4 kelompok bahasa di Sulawesi Tengah, yakni:1. kelompok Poso-Tojo, 2. kelompok Parigi-Kaili, 3. kelompok Loinang dan 4. kelompok bahasa Lole.
1898b “Iets over de talen der To Sada en der To Wadu” (Sesuatu tentang bahasa To Sada dan To Wadu) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 42: 111-50.
1899 “De Palatalen in het Bare’e: Proeve een der Behandeling van het Klankstelsel de Bare’e-Taal” (The Palatals di Bare’e: Percobaan Dan penggunaan Sistem Suara Bahasa Bare’e) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 50: 676-687.
1899 Maka, Naka en Paka in het Bare’e en eenige verwante talenTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 41: 529-40.
1899 De legende van Menoti-noti” (Legenda tentang Menoti-notiTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde  41: 80-92. Berupa teks, terjemahan dan konteksnya. Menoti-noti menurut penulis adalah tokoh legenda yang umum dikenal khususnya di kalangan penduduk Toraja Timur, karena tokoh ini memiliki sifat-sifat dan keampuhan luar biasa. (motif F. 600, Man with supernatural power ).
1900a “Laolita i Sese nTaola: Het verhaal van Sese nTaola, oorspronkelijke tekst in de Bare’e-Taal (Midden Celebes)” (Dongeng Sese nTaolaVerhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen 51(2). Dongeng ini berasal dari daerah Tojo yang termasuk daerah Toraja Timur. Dongeng ini bermotif anak rakus yang dibuang (diusahak an di bunuh) oleh orang tuanya, tapi tidak berhasil. Karena merasa tidak disukai oleh orang tuanya si anak pergi mengembara. Sejak kepergian’ dari desanya, maka desa berikut isinya seakan mati, seolah terhenti kehidupan di situ. Si rakus setelah mengalami berbagai pengalaman akhirnya kawin dengan, seorang anak saja. Dan pada suatu ketika ia kembali ke desa asalnya, desa yang pada ketika tinggalkan olehnya seolah mati itu menjadi hidup kembali sebagaimana biasa. (motif F 612.1, Strong hero sent from home because of enormous appetite”). Dongeng anak rakus ini pada akhirnya terdapat 2 versi. Yang pertama ialah akhir cerita menggambarkan bahwa hubungan, anak dan orang tuanya berbaik kembali. Yang kedua ialah bahwa akhirnya si anak membalas tindakan orang tuanya dengan memenggal kepala si orang tuanya (motif S 366, Abandoned children rn return to kill parent). Dalam bahasa Belanda.
1900b “De Talen der To Boengkoe en To Mori” (Bahasa To Bungku Dan To Mori) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 44(1): 249-318.
1900c De Talen der Togian Eilanden” (Bahasa Kepulauan Togian)Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen 42(5): 1-63. (Terjemahan dalam Bahasa Inggris)
1901a “Mededeelingen omtrent de Toradjas van Midden Celebes” (Poso daerah kerja Zending kitaTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 44: 215-254. Tulisan ini menguraikan mengenai penduduk Toraja di Sulawesi Tengah, mengenai pola menetapnya, bahasa mata pencaharian dan kera- jinan tangan, pakaian dan peralatan, aturan-aturan dan hukum, upacara kematian sistem kepercayaan, institusi shaman dan mengenai sifat dan kepribadian penduduk bersangkutan. Dalam bahasa Belanda.
1901b De Invloed van Loewoe op Midden-Celebes” (Pengaruh Luwu di Sulawesi Tengah) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 45: 153-64
1902a “Toradja’sche Vertellingen” (Dongeng dongeng TorajaTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 45: 387-482. Buku ini berupa kumpulan dongeng-dongeng dari penduduk Toraja Sulawesi Tengah berjumlah 17 buah. Diantaranya terdapat sejumlah dongeng-dongeng binatang, misalnya sebab-sebab kucing bemusuhan dengan tikus (motif A 2494.11 144 ff, Enimity between cat and mengapa lebah punggungnya bengkok atau patah (motif mouse A 2300.1, shape of bee’s body Dh.I 129), kemudian dongeng Tandani yang bermotif anak disia-siakan orang tua, lalu si ibu menyesal dan menyusul anak masuk batu yang terbelah dan terjepit (motif 1552 ff, Rocks that open and close) tubuh si ibu itu separuh berubah menjadi babi dan kambing. Kemudian dongeng mengenai bapak yang pergi jauh yang sebelumnya berpesan tidak menghendaki anak perempuan bila si isti melahirkan anak perempuan, tapi si ibu menyembunyikan si anak. Akhirnya ketahuan oleh si bapak kemudian dibuang di pulau dan kemudian hari kawin dengan anak raja.
1902b “Laolita i Wali mPangipi: Oorsprongkelijke tekst in de Bare’e-taal (Midden-Celebes) met vertaling en aanteekeningen” (Kisah i Wali mPangipi:Teks asli dalam bahasa Bare’e (Sulawesi Tengah) dengan terjemahan dan catatan) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 54: 203-296.
1902c “Verhaal van Sese nTaola: Inleiding en Vertaling” (Kisah Sese nTaola: Pendahuluan dan TerjemahanVerhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen 55(1).
1903  “Toradja’sche Uilespiegel-Verhalen” (Dongeng-dongeng si kabayan dari TorajaTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 46: 118-127. Ada berbagai dongeng mengenai tokoh si Pandir pada orang Toraja Sulawesi Tengah dengan berbagai nama yang berlainan seperti / Tenga pada orang Toraja Beare’e (Timur), I Dojo pada orang Toraja Parigi (Barat), Tolo Dongku pada orang Toraja Poemboto (Timur) dan lain sebagainya. Versi yang diuraikan penulis adalah mengenai I Tengo yang karena pandirnya melakukan hal-hal sebagai berikut: memperistri mayat, yakni mayat seorang gadis, karena ia disuruh mencari istri yang pendiam, kemudian karena mengasosiasikan bau busuk (mayat) dengan kematian, ketika bapak ibunya kentut dikuburnya hidup-hidup sebab ia berpikir bahwa kedua orang tuanya telah mati. Dan akhirnya ia pun mengubur dirinya sendiri ketika tercium olehnya bau busuk kentutnya sendiri (motif J 1749, Absurd ignorance-miscellaneous).
1906 “Het Verhaal van den Guizigaard in het Tontemboansch, Sangireesch en Bare’e” (Dongeng mengenai si Rakus dalam bahasa Tontemoan, Sangir dan Bare’eTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 56(3):47-51. Teks dan terjemahan serta konteks. Tulisan ini membandingkan dongeng si Rakus (lihat Dongeng No. 150) di tiga daerah yakni di Minahasa (sastra Tontemboan), di dalam sastra Sangir di Sangir, dan dalam sastra Bare’e (di Sulawesi Tengah bagian timur atau Toraja Timur).
1906 “Uitingen der publieke opinie bij de Toradja’s van Midden-Celebes” IG 28: 873-85.
1908 De zending in Midden-Celebes”  (Misi di Sulawesi TengahOnze Eeuw 8: 366-424.
1908 “De voorstellingen der Toradja’s omtrent het Hiernamaals” Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 52: 1-21.
1909 “De Naam der Gierst in Midden-Celebes” (Nama Millet di Sulawesi TengahTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 51:367-73.
1910 “Trekken van overeenkomst tussen de Germaansche en de Toradjasche en Minahassische volksverhalen” IG 32(i): 253-84.
1910 Toradja’sche Vertellingen (Tweede reeks)” (Dongeng dongeng TorajaTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 52: 195-340. 
1911 Het voorvoegsel Me-, Pe- in de Bare’e TaalMededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 55: 353-90.
1913 “Verhaal der Ontdekingsreis van Jhr. J.C.W.D.A. van der Wyck naar het Posso-Meer, 16-22 October, 1865” (Kisah Perjalanan Penemuan Jhr. J.C.W.D.A. van der Wyck ke Danau Posso, 16-22 Oktober 1865Indische Gids Juli, 1913.
1915 “Zwangerschap en Geboorte Bij de Toradja’s van Midden-Celebes” (Kehamilan dan Kelahiran Di kalangan Toraja Sulawesi TengahVerzamelde Geschriften van N. Adriani II: 380-90. Artikel ini menguraikan adat kebiasaan yang berlaku dan pantangan-pantangannya pada waktu orang hamil dan melahirkan. Pada masa hamil ada sejumlah pantangan yang harus diturut para calon ibu. Dan pada waktu melahirkan ada kebiasaan bagi para ibu yang habis melahirkan (bersalin) untuk memanaskan tubuh mereka diperapian agar kesehatannya pulih kembali untuk selama beberapa hari. Walaupun dalam pandangan masyarakat terhadap seseorang wanita yang tidak punya anak dianggap tidak sempurna, tetapi di sana dikenal beberapa cara pengguguran (aborsi) bayi yang tidak diinginkan. Caranya ialah dengan mengunyah daun-daunan tertentu atau dengan menginjak-injak perut si wanita tersebut sampai janinnya keluar. Pada waktu melahirkan, tembuni (ari-ari atau placenta) di taruh di belanga tanah atau ditempatkan dalam tempurung kelapa kemudian digantung di pohon atau dikubur di tanah tempat di bawah cucuran atap yang prinsipnya agar senantiasa kena tetesan air hujan.
1915 Maatschappelijke, speciaal economische verandering der bevolking van Midden-CelebesTijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap 2nd series, 32: 457-75.
1916a Laolita i mPonggale: Soera mPobasa anoe ndalimba ri basa Bare’e oengka ri basa Balanda (Kisah i mPonggale: Buku Bacaan diterjemahkan dalam Bahasa Bare’e Dari Bahasa Belanda) Rotterdam: Wyt).
1916b Toradjasche karaktertrekkenOnze Eeuw 16: 386-404.
1916c “De Schoone Slaapster in ‘t Bosch, en het gelijkluidend verhaal in Midden-Celebes” (Putri cantik yang tinggal di hutan dan dongeng sejenisnya di Sulawesi Tengah)  Verslagen en Mededeelingen der Koninklijke Academie van Wetenschappen, 5(2). Penulis melihat adanya kesamaan motif dalam dongeng si Rakus (motif F 612.1, Strong Hero sent from home because of enormous appetite type 650) dengan dongeng si cantik yang tidur di hutan dari dongeng Grimm Eropa (motif D 1960.3, Sleeping beauty type 410). Kesa maan di antara kedua dongeng tersebut ialah adanya unsur tidur atau keadaan mati yang berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, yakni putri yang tidur lama dengan segenap isi istana (Grim) dan desa beserta segenap isinya yang seakan mati setelah si rakus pergi dari desa tersebut (Sulawesi Tengah). Penulis menguraikan keadaan yang seakan mati dalam dongeng tersebut yang dihubungkan dengan kepercayaan terhadap kematian dari penduduk Toraja Sulawesi Tengah.
1917 Soera mPoagama nTaoe Anoe Mesoea Sidi Masehi (Leesboekje voor jongelieden in het Landschap Posso, die lidmaat der Christelijke gemeente wensen te worden) (Van de Rhee’s Drukkerij, Rotterdam).
1917 “De Toradjasche vrouw als priesteres” Verslagen en Mededeelingen der Koninklijke Academie van Wetenschappen, 2: 453-78.
1918 Het Animistisch Heidendom als godsdienst” (Paganisme Animistik sebagai agamaOnze Eeuw 18,deel 1, deel 2, deel 3.
1918 “Naschrift op het artikel Measa van A.C. Kruijt” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 74: 261-2.
1918-19 Morische verhalen opgetekend door H.G. van Eelen en J. Ritsema, zendelingen van het Nederlandsche Zendelinggenootschap, en uitgegeven door N. Adriani” (Kisah-kisah orang Mori yang direkam oleh H.G. van Eelen dan J. Ritsema, misionaris Nederlandsche Zendelinggenootschap, dan diedit oleh N. AdrianiMededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 62 (1918): 211-29, 276-95; dan 63 (1919): 312-27.
1919 Posso (Midden-Celebes (Poso di Sulawesi Tengah) (Den Haag: Boekhandel van de Zendingstudie-Raad). Buku ini dimaksud oleh penulis sebagai uraian mengenai sejarah masuknya Zending beserta kegiatannya ke daerah Poso di Sulawesi Tengah. Di samping itu berisi uraian mengenai penduduk Toraja Bare’e di daerah Poso, geografinya, fauna dan floranya, organisasi sosial dan pelapisan sosial penduduknya, status wanita, adat perkawinan dan perceraian, sistem kepercayaan dan mite-mitenya. Upacara dan pesta kematian, kedudukan shaman, pola kehidupan sehari-hari, dan mengenai bahasa serta kesusastraan Bare’e. Pada halaman 93-95 terdapat uraian singkat mengenai bahasa pantang yakni sejumlah nama-nama, kata-kata yang harus dihindari pemakaiannya dalam kehidupan sehari-hari penduduk Toraja di daerah Poso Sulawesi Tengah. Kata-kata atau nama-nama tersebut harus diganti dengan kata-kata atau sebutan lain. Pantangan itu meliputi: a. Nama-nama anggota keluarga tertentu seperti nama mertua (laki-laki dan perempuan), nama paman dan bibi pihak ayah maupun pihak ibu, nama kakek-nenek kedua belah pihak dan saudara kandung kakek-nenek, b. Pantangan menyebut nama-nama binatang tertentu pada waktu mengadakan perjalanan jauh, berburu dan menangkap ikan misalnya buaya, ular, lintah, kemudian nama binatang yang diburu dan alat-alat yang digunakan untuk berburu misalnya menyebut sumpit, tombak dan juga nama anjing berburu yang menyertai, c. Nama-nama orang yang diambil dari keadaan sehari-hari seperti si malam, ia harus digan ti’ dengan si gelap dan sebagainya.
1919 “Indonesische Priestertaal” (Bahasa Dukun IndonesiaVerslagen en Mededeelingen der Koninklijke Academie van Wetenschappen, 5(4): 377-96.
1919 Napoe-sche Verhalen (Cerita Dongeng Napu) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 63(1919): 45-59 oleh P. Ten Kate dan diredaksikan A. Adriani dalam bahasa Belanda/Napu.
1921 Korte Schets van het Toradja-Volk in Midden-Celebes (Sketsa Singkat Orang Toraja di Sulawesi Tengah) (Oegstgeest: Uitgave Zendingsbureau)
1922 Het Animistisch Heidendom als Godsdienst (Paganisme Animistik sebagai Agama) (Oegstgeest: Zendingbureau)
1928 Bare’e-Nederlandsch Woordenboek met Nederlandsch-Bare’e Register (Kamus Bahasa Bare’e- Belanda Dengan Daftar Kata Belanda- Bare’e) (Leiden: E.J. Brill).

Huruf A, B, D, E, G, H, K, L, M, N, O, P, R, S, T, W

1931 Spraakkunst der Bare’e-Taal. (Tata Bahasa Bare’e) (Bandoeng: A.C. Nix & Co.)
1932-3 Bare’e Verhalen (Dongeng-dongeng Bare’e) (‘s Gravenhage, Martinus Nijhoff). Jilid II: Bare’e Verhalen: Verkorte, Vrije Vertaling (Pengantar dan terjemahan dalam Bahasa Belanda). Dicetak ulang dalam LOBO isu 2. Kedua buku ini adalah kumpulan dongeng sebanyak. 140 buah dari penduduk Toraja Timur yang berbahasa Bare’e di Sulawesi Tengah. Jilid I merupakan teks dongeng dalam bahasa Bare’e, sedangkan jilid II berisi terjemahannya. Penulis mengklasifikasikan dongeng-dongeng tersebut ke dalam 8 kelompok: 1. Dongeng-dongeng binatang (23 buah), 2. Dongeng binatang yang berjasa pada manusia atau tentang penyamaran manusia dalam wujud binatang (motif D 100-0-199, Transformation of man to animal) sebanyak 55 buah, 3. Dongeng tentang perjalanan ke dunia atas dan ke dunia bawah (motif F 10 ff, Journey to upper world dan motif F 80 ff, Journey to lower world sebanyak 16 buah, dan 4, Dongeng mengenai hantu, dukun sihir dan sejenisnya berjumlah 16 buah, 5. Dongeng sehubungan dengan adat pengayauan kepala sebanyak 10 buah, 6. Dongeng roman percin taan sebanyak 9 buah 7. Anekdot sebanyak 18 buah, dan 8. Cerita- historis sebanyak 19 buah. Perlu dijelaskan bahwa bahwa bagian akhir dari jilid II ada sebuah bab tambahan yang berisi masalah hukum pada penduduk bare’e.
1932 Verzamelde Geschriften van Dr. N. Adriani. (Tulisan yang Dikumpulkan) (Haarlem: De Erven F. Bohn N.V.)
1939 Dengan S.J. Esser Koelawische Taalstudiën: Overzicht der Spraakkunst, Gesprekken en Verhalen met Vertaling (Studi Bahasa Kulawi: Tata Bahasa, Percakapan dan Cerita dengan Terjemahan)(Nix & Co, Banding).

Adriani, N. & A.C. Kruyt

1898 “Van Paloppo (I) naar Posso” (Dari Palopo ke Poso) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 42: 1-106. Kisah perjalanan dari Palopo, Sulawesi Selatan ke Poso, Sulawesi Tengah. Tercakup di dalamnya uraian tentang mite Sawerigading, mengenai sistem kepercayaan, perbudakan, dan permainan kanak-kanak. Juga terdapat uraian mengenai sejarah kekuasaan kerajaan Luwu atas daerah pedalaman Sulawesi Tengah.
1898 “Van Posso naar Parigi, Sigi and Lindu” (Dari Poso ke Parigi, Sigi dan ke Lindu) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 42: 369-535. Artikel ini merupakan kisah perjalanan dari daerah Poso (Sulawesi Tengah sebelah timur) ke daerah sebelah barat yakni daerah-daerah Parigi, Sigi dan ke Lindu. Catatan perjalanan ini mencakup hal-hal mengenai pakaian, lapisan sosial, sistem kepercayaan, adat-istiadat perkawinan, kelahiran, kematian. Pada akhir tulisan dilampirkan satu daftar kata-kata bahasa dan dialek penduduk Poso-Tojo, Parigi-Kaili, bahasa Loinang dan Lole (semuanya dari Sulawesi Tengah).
1899 “Van Posso naar Todjo” (Perjalanan dari Poso ke Tojo) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 43(1): 1-46. Tulisan ini merupakan kisah perjalanan dari daerah Poso ke Tojo di Sulawesi Tengah bagian timur. Tercakup ke dalamnya keterangan mengenai hal-hal umum seperti bahasa, mitologi, upacara-upacara dari penduduk yang berlokasi di daerah tersebut.
1900 Van Poso naar Mori” (Perjalanan dari Poso ke Mori) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 44(1): 135-214.
1901 “Geklopte Boomschors als Kleedingstof op Midden-Celebes en hare Geographische Verspreiding in Indonesië” (Kain Kulit Kayu yang Dipukul Sebagai Kain Pakaian di Sulawesi Tengah dan Sebaran Geografisnya di IndonesiaInternationales Archiv fur Ethnographie 14:
1912 De Bare’e-Sprekende Toradjas van Midden-Celebes (Penduduk Toraja yang berbahasa Bare’e)(3 jilid, dilengkapi sebuah peta bahasa) (4 vols.) (Batavia: Landsdrukkerij). Ketiga jilid buku ini merupakan monografi lengkap daripada penduduk Toraja di Sulawesi Tengah bagian timur yang berbahasa Bare’e. Jilid I dan II masing-masing setebal 426 dan 468 hlm berisi monograf lengkap yang ditulis bersama Adriani dan Kruyt.

Jilid 1: Pada halaman 184-195 terdapat uraian mengenai peralatan rumah dan senjata api penduduk Toraja yang berbahasa Bare’e di Sulawesi Tengah. Peralatan rumah terdiri dari: tungku (tempat api) disebut posudo atau tondi. Tikar tidur, berbagai keranjang diantaranya yang memakai tutup yakni bungge, tempat menyimpan harta benda keluarga. Penahan hujan tersebut boru atau boya. Tempat tidur bayi disebut kobati. Sedang alat senjata ialah labu: parang, penai: pedang, kanta: perisai, mambunu: lembing. Pada jilid I halaman 403-406 diuraikan mengenai cara-cara pengobatan pada penduduk Toraja yang berbahasa Bare’e. Ada beberapa cara pengobatan yang dikenal penduduk. Pertama ialah cara pengobatan biasa artinya dengan menangani langsung bagian atau tubuh si sakit. Sedang macam pengobatan yang kedua ialah dengan pertolongan seorang dukun/shaman. Pengobatan jenis pertama seperti: Mosupa ialah dengan meludahi bagian tubuh yang sakit dengan kunyahan daun-daunan tertentu atau binatang tertentu. Kunyahan daun sirih dipoleskan pada kepala atau pada dada si sakit yang demam panas, agar dapat mendinginkan si sakit. Mangkomosi yakni dengan menempelkan daun-daunan tertentu pada bagian tubuh si sakit, misalnya mata bengkak harus ditempel daun sirih dan daun bawang atau batang tanaman puso (Lat. Amomum Album Bi). Untuk mengobati luka dalam dan keracunan ialah dengan daun tomare (Lat. Lathropha Curcas). Pengobatan dengan jalan memandikan si sakit dengan air bercampur ramuan tumbuhan tertentu. Pengobatan dengan meminumkan tuak/air yang sebelumnya sudah dicelupkan ke dalamnya bagian tubuh manusia atau binatang, misalnya kulit tengkorak. Pengobatan dengan benda-benda dari besi seperti parang yaitu setelah dipanaskan lalu ditempelkan pada si sakit. Pengobatan dengan cara mengurut. Mompadela ialah pengobatan dengan mengalirkan darah jika orang sering pusing kepala. Pengobatan jenis-jenis tersebut di atas mengenal pelbagai pantangan. Misalnya si sakit tidak boleh makan beberapa jenis tumbuhan dan binatang tertentu, seperti: buah labu (Lat. Legendaris Vulgaris Ser), ketimun, jagung, cabe dan daging kerbau putih. Pengobatan lainnya ialah dengan pertolongan dukun yang dilakukan dengan cara bernyanyi semalaman di dalam selubung kain fuya. Selama itu jiwa si dukun keluar dari tubuhnya pergi ke langit untuk memanggil semangat atau kekuatan hidup yang diperlukan si sakit agar kekuatannya bertambah atau pulih kembali. Dalam tugas itu si dukun dibantu oleh roh-roh yang tinggal di langit atau di awan. Pada akhir nyanyiannya sang dukun menyatakan telah beroleh semangat yang dibutuhkan, kemudian setelah selesai bernyanyi maka kepala si sakit diusapi yang katanya menyalurkan kekuatan hidup melalui kepalanya. Lalu dalam jilid II terdapat sedikit uraian mengenai cara pengguguran (aborsi).

Jilid 2: Pada halaman 2-54 terdapat uraian mengenai pola menetap dan bentuk rumah penduduk Toraja Barat di Sulawesi Tengah, berikut upacara atau pesta yang berhubungan dengan pembangunan rumah. Juga dijelaskan tentang balai sakral. Menurut penulis, ada 3 tipe rumah tinggal, yakni: 1. Tipe A, yaitu tipe rumah orang Napu, Besoa dan Koro. 2. Tipe B, ialah tipe rumah orang Kulawi. 3. Sedang Tipe C ialah rumah orang Kaili-Sigi yang banyak mendapat pengaruh tipe rumah orang Bugis. Pada halaman 217 terdapat uraian mengenai pakaian penduduk Toraja dari Sulawesi Tengah. Bahan pakaian dulunya terbuat dari fuya tetapi kini hampir seluruhnya dari bahan katun. Pakaian pria terdiri atas : banga atau cawat, bagian badan atas tanpa baju kecuali pada upacara atau pesta memakai baju (seperti baju pria suku Makasar). Sehelai sarung yang dililitkan di bahu merupakan pelengkap pakaian, sekaligus berfungsi sebagai selimut penahan dingin. Di atas kepala biasanya memakai ikat kepala dari kain fuya yang berwarna. Tiap warna dan hiasan yang ditaruh sesuai dengan jumlah berapa kali si pemakai turut dalam peperangan/pengayauan. Sebuah kampuh sirih watu tu namanya ialah tempat sirih, kapipi merupakan pelengkap pakaian pria yang penting. Di dalam watutu biasanya juga tersimpan beberapa biji jagung (yang telah kering) atau juga batu putih kecil-kecil yang digunakan untuk keperluan meramal. Pakaian wanita terdiri dari. Pariba (sarung), bagian atasnya karaba atau lembe (semacam blus lengan pendek). Pakaian sehari-hari biasanya berwarna hitam dan tidak diberi hiasan apa pun. Pakaian untuk pesta/upacara dibuat dari bahan fuya yang lebih halus dan tipis sehingga seperti kertas dan hanya tahan dipakai selama pesta/upacara saja (biasanya 3 sampai 7 hari) setelah itu biasanya sudah koyak. Pakaian ini diberi warna yang menyolok dan sering diberi macam-macam hiasan. Di daerah pegunungan seperti daerah Bada’, Napu, Besoa dan Kulawi pakaian para wanita bahagian bawah tampak seperti rok bersusun. Sebagai kelengkapan dan hiasan dipakai tudung kepala yang disebut toru atau tinii, ada yang dihiasi dengan potongan-potongan kain dan potongan-potongan mika. Kalung manik-manik ialah sogiti. Semakin tua umur manik-manik tersebut semakin berharga karena ia dianggap mengandung daya kekuatan yang dapat memperkuat semangat hidup pemakainya Sogoti yang lebarnya 5 span dinilai seharga 1 budak sedang yang hanya 1 span seharga seekor kerbau. Subang (jali) dari kayu, kemudian gelang tangan dan gelang kaki ada yang terbuat dari tembaga. Perlengkapan seorang gadis biasanya memakai seuntai rumput/tanaman yang berbau harum biasanya dari tanaman tertentu yakni porotomu, daun peterseli. Tanaman ini diselipkan di sarung bagian belakang di pinggang bagian belakang. Pada masa lalu para wanita yang belum kawin adalah aib bila tidak memakai baju atau penutup dada, sedang bagian-bagian tersebut telanjang saja bagi mereka yang telah bersuami karena sedang bekerja, kecuali bila masa panen mereka diharuskan memakai baju sebagai penghormatan terhadap padi. Pada halaman 196 diuraikan mengenai makanan dan minuman dari penduduk Toraja yang berbahasa Bare’e di Sulawesi Tengah. Makanan utama penduduk ialah beras, kemudian jagung dan sejenis gandum atau wailo (Lat. Sorghum Vulgare), dan sagu (Lat. Metroxylon). Jenis tumbuhan yang dimakan sebagai sayuran ialah ketimun, labu, kacang-kacangan dan sebagainya. Jenis daging seperti daging kerbau, babi dan ayam serta kambing umumnya dimakan dalam rangka pesta atau upacara saja. Minuman yang digemari penduduk ialah tuak (pongasi) yang dibuat dari beras. Pada halaman 379 terdapat uraian mengenai alat-alat musik yangdimainkan penduduk Toraja Sulawesi Tengah. Alat-alat tersebut ialaha. Gendang, dari bentuknya dapat dibedakan atas 3 jenis yakni gendang ganda, gendang yang bentuknya amat besar biasanya disimpan dibalai sakral. 2. Gendang tibu, bentuknya serupa gendang ganda hanyaukurannya lebih kecil. Kedua jenis ini tersimpan di balai sakral digantung dalam lobo. 3. Gendang karatu, ialah gendang kecil yang ping-gangnya ramping membunyikannya harus diletakkan di lantai. b. Jenisalat musik tiup seperti terompet (tambolo) terbuat dari bambu, danada pula terompet dari kerang triton. Dibunyikan bila pulang dariperang sebelum masuk desa. Kemudian suling yang dibedakan atas:1. Lolowe, yakni suling yang ditiup dengan mulut dan 2. Sanggona,suling yang ditiup dengan hidung. c. Alat musik gesek atau yang bertali seperti geso-geso dunde (instrumen dengan 1 snar), dan tandilo, d. Ree-ree, ialah instrumen musik dari bambu dengan tali-tali (snar) yang umum dimainkan oleh kanak-kanak setelah panen.

Jilid 3 bagian I, Jilid 3 bagian II: Jilid III setebal 717 hlm khusus berisi bahasa dan kesusastraan Bare’e yang dikerjakan. Pada jilid III halaman 461-710 terdapat uraian mengenai bentuk-bentuk puisi penduduk Toraja Bare’e dari Sulawesi Tengah. Menurut penulis ‘di sana terdapat 5 jenis puisi. Pertama ialah golongan pantun 4 baris seperti kajori, balingoni atau disebut laolitani. Isi pantun-pantun tersebut ialah tentang percintaan nasihat dan sebagainya Polinga atau Popasangke ialah nyanyian bersahut-sahutan waktu panen. Jonjo Awa ialah nyanyian dengan reffrein pada waktu me nunggui jenasah Sedangkan Ohaio ialah nyanyian para pembuat perahu yang mengisahkan proses pembuatan perahu. Dulua ialah syair yang berisi soal-soal politik, kata-katanya banyak mengambil kata-kata dari bahasa Indonesia/daerah lain. Kedua ialah puisi tarian yang mengiringi tarian raego misalnya. Ketiga ialah syair yang dinyanyikan dalam hubungan perang dan pengayauan seperti pondolu dan ento yang mengisahkan jalannya perang dan pengayauan. Khusus ento merupakan bagian dari pesta/upacara penyambutan para pendekar yang kembali dari peperangan, mereka disambut di Balai Sakral. Ke-empat ialah puisi keagamaan yang berupa mantra-mantra dan doa yang dinyanyikan. Kelima ialah nyanyian kanak-kanak untuk mengiringi bermain dan nyanyian untuk menidurkan anak.

Jilid 4 (Platten en Kaarten) (Foto-foto dan Peta)

1913 De Economische Toestanden, de Handel en Nijverheid der Toradja’s, op Celebes.” (Kondisi Ekonomi, Perdagangan dan Industri Orang Toraja di SulawesiTijdschrift voor Economische Geographie 4: 403-9.

Arts, J. A.

1985 “Zending en bestuur op Midden-Celebes tussen 1890 en 1920. Van samenwerking naar confrontatie en eigen verantwoordelijkheid.” (Misi dan pemerintahan di Sulawesi Tengah antara tahun 1890 dan 1920. Dari kerjasama hingga konfrontasi dan tanggung jawab pribadi.) In Imperialisme in de Marge: De Afronding van Nederlands-Indië. J. van Goor, ed., 85-122. (Utrecht: HES Uitgevers).

Belksma, J.

1938 “De Adat der Sa’dan Toradja’s” (Adat orang TorajaOm te Gedenken: vijf-en-twintig jaar zendingsarbeid van den G.Z.B. onder de Sa’dan Toradja’s, Zuid-Midden-Celebes (Gereformeerde Zendingsbond)

Bergh, J. D. van den

1953 Spraakkunst Van Het Banggais. (Tata Bahasa Banggai) (‘s-Gravenhage: M. Nijhoff)

Beurden, A.I.P.J. van

1985 “De Indische ‘Goldrush’, goudmijnbouw en belied” (‘Demam emas’ Hindia-Belanda, penambangan emas dan pemerintahan) in J. van Goor, ed. Imperialisme in de Marge: De afronding van Nederlands-Indië (Utrecht, Netherlands: HES Uitgevers), 179-226.

Bikker, A.

1930 “Enkele Ethnographische Mededeelingen over de Mamasa-Toradjas” (Beberapa uraian etnografis mengenai orang Toraja MamasaTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 70: 348-78. Uraian etnografis ini terdiri dari 3 masalah. Pertama mengenai doa mantra-mantra untuk dewi padi, kedua mengenai pesta panen di suatu tempat di Pana, dan terakhir tentang adat-istiadat perkawinan penduduk Mamasa di Sulawesi Selatan.
1932 “Een en ander over het ontstaan der districten in de Onderafdeeling Boven-Binoeang en Pitoe-Oeloena-Saloe” (Beberapa hal tentang asal usul distrikt-distrikt di Onderafdeling Binuang Atas dan Pitoe-Ulana-Salu) Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 72: 759-66.
1933 “De Rijstadat onder de dToradja’s van de Boven-Karama (West Midden-Celebes)” (Adat-istiadat di sekitar padi pada penduduk Toraja di Hulu Sungai Karama bagian Barat Sulawesi TengahTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 33(2-3): 3-19. Artikel ini menguraikan, persiapan yang dilakpkan dalam rangka upacara pertanian padi dan pahtangan-pantangan yang harus ditaati agar hasil panen baik.
1934 “Enige Raadsels van de Mamasa-Toradjas” (Beberapa Teka-teki Mamasa-TorajaTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 74: 124-39.

Boonstra van Heerdt, R.

1914a De Berglandschappen Behoorende tot de onderafdeling Paloe van Midden-Celebes (Koelawie, Lindoe, Tobakoe, Tolé, Benasoe)” (Lanskap Pegunungan onderafdeling Palu, Sulawesi Tengah (Kulawie, Lindu, Tobaku, Tolé, Benasu)) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap 31: 618-44.
1914b De Noorderarm van het Eiland Celebes van Paloe tot Bwool” (Lengan Utara Pulau Sulawesi dari Palu ke Bwool) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap 31: 618-44:725-65.

Braam Morris. D.F. van

1889 Het Landschap Loehoe, Getrokken uit een Rapport” (Lanskap Luwu, Diambil dari LaporanTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 32: 498-555.

Broersma, R.

1931a “Gorontalo, een handelscentrum van Noord Selebes” (Gorontalo, pusat perdagangan Selebes Utara) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap 48: 221-38.
1931b “De beteekenis van Selebes Oostkust voor den Handel” (Pentingnya Pantai Timur Selebe untuk Perdagangan) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap 48: 1039-49.

Brouwer, K. J.

1951 Dr. A.C. Kruyt: Dienaar der Toradja’s. (Dr. A.C. Kruyt: Hamba Toraja) Den Haag: J.N. Voorhoeve.

Donggala Banawa

1905 “Het Landschap Donggala of Banawa (1888)” (Lanskap Donggala atau Banawa 1888)Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 58(3/4): 514-531. Dalam artikel ini terdapat uraian mengenai pakaian penduduk Banawa di Sulawesi Tengah bagian Barat yang amat dipengaruhi oleh kebudayaan Bugis-Makasar dan pengaruh Islam. Pada halaman 514-531 terdapat uraian mengenai alat-alat senjata yang digunakan oleh penduduk Banawa seperti: Guma ialah parang dengan tali pengikat pada pinggang. Hulunya berupa ukiran berbentuk mulut buaya terbuat dari tanduk, sarungnya dari kayu. Parang seorang terkemuka biasanya baik hulu maupun sarungnya dilapisi dengan timah tipis. Lembing. Sumpitan dengan anak panahnya yang beracun. Tameng berbentuk oval terbuat dari jenis kayu yang empuk, kedua sisinya dihiasi kulit kerang dan rambut atau bulu kera. Perlengkapan prajurit selain membawa senjata tersebut di atas juga membawa tikar tidur, memakai jimat yang digantung pada dada dan memakai songko’ (semacam topi) dari anyaman rotan yang diberi hiasan bulu-bulu burung dan ayam.

Dormeier, J.J.

1947 Banggaisch Adatrecht (Hukum Adat di Banggai) (Verhandelingen KITLV 6, Martinus Nijhoff, Den Haag)

End, Th. van den

1985 De Gereformeerde Zendingsbond, 1901-1961, Nederland-Tanah Toraja: Een Bronnenpublicatie.(Serikat Misi Reformed, 1901-1961, Belanda-Tanah Toraja: Sumber Publikasi) ([Netherlands]: Uitgave van de Raad voor de Zending der Ned. Herv. Kerk, de Zending der Gereformeerde Kerken in Nederland en de Gereformeerde Zendingsbond in de Ned. Herv. Kerk)

Esser, S.J.

1927 Klank- en Vormleer van het Morisch Eerste en Tweede gedeelte (Teori Suara dan Bentuk Bahasa Mori Bagian Pertama dan KeduaVerhandelingen van het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Taal-, Land en Volkenkunde 67(3,4) (‘S-Gravenhage: Martinus Nijhoff).
1934 Handleiding voor de Beoefening der Ledo Taal: Inleiding, Teksten met Vertaling en Aantekeningen en Woordenlijst (Pedoman latihan bahasa LedoVerhandelingen van het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Taal-, Land en Volkenkunde 72(1) (‘S-Gravenhage: Martinus Nijhoff). (Terjemahan dalam Bahasa InggrisArtikel ini menguraikan bahasa Ledo, yakni salah satu dialek bahasa Kaili yang diucapkan di daerah onderafdeeling Palu, Donggala, Parigi dan Mamuju. Bahasa tersebut merupakan lingua france dari daerah yang disebut Toraja Barat di Sulawesi Tengah. Pada akhir tulisannya pengarang melampirkan sebuah daftar kata-kata.
1939 “Naar aanleiding van I La Galigo”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 117(1961): 384–385. (Tentang Bahasa Wotu, Tae’ (Luwu’-Rongkong), Wolio, Ledo Kaili, Bugis, Mori Atas) (Terjemahan dalam Bahasa Inggris)
1939 Dengan N. Adiani Koelawische Taalstudiën: Overzicht der Spraakkunst, Gesprekken en Verhalen met Vertaling (Studi Bahasa Kulawi: Tata Bahasa, Percakapan dan Cerita dengan Terjemahan) (Nix & Co, Bandoeng).
1964  De Uma-Taal (West Midden-Celebes): Spraakkunstige Schets en Teksten” (Bahasa Uma (Sulawesi Tengah Barat): Sketsa Tata Bahasa dan Teks) Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land en Volkenkunde 43 (‘S-Gravenhage: Martinus Nijhoff).

Evers, G.J

1937 “Een reis door Midden-Celebes” De Aarde en haar Volken 73: 64-70, 93-99.

Fokema, F.J.

1915 Verboden huwelijken in Posso” (Perkawinan terlarang di Poso) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap, 59: 213-222. Artikel ini merupakan uraian mengenai hubungan adat penduduk Toraja Poso dengan agama Kristen yang masuk ke daerah tersebut. Diuraikan mengenai bagian-bagian dari adat Toraja yang dapat terus dilaksanakan dan yang tidak ditolerir oleh agama Kristen karenanya dilarang untuk terus dipraktekkan, khususnya yang berhubungan dengan adat perkawinan. Di masa lalu adat melarang hubungan perkawinan antara paman dengan keponakan dengan sangsi hukuman mati.
1915 Het Feestelijk schoonmaken der graven in Poso” (Upacara pembersihan kuburan di Poso) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap, 59: 208-212. Di daerah Poso di Sulawesi Tengah terdapat, suatu kebiasaan di kalangan penduduk untuk membersihkan kuburan leluhur dan keluarga disertai mengadakan pesta yang boleh dianggap dapat memberikan hasil panen yang baik. Penulis juga menguraikan tanggapan dan tindakan para penyebar agama Nasrani (Zending) terhadap adat kebiasaan tersebut.

Fraassen, Ch. F. van

1991 “De Positie van Luwu in Zuid- en Centraal-Sulawesi.” (Posisi Luwu di Sulawesi Selatan dan Tengah) in Excursies in Celebes. Harry A. Poeze and Pim Schoorl, eds., 1-20. (Leiden: KITLV Uitgeverij)

Gallas, P. A.

1900 Bijdrage tot de Kennis van het Landschap Posso.” (Kontribusi Pengetahuan tentang Lanskap Posso) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap XVII: 801-14.

Ginkel, G. van

1910 De Landschappen Malili en Noeha in het N.O. van de Golf van Boni” (Lanskap Malili dan Nuha di Timur Laut Teluk Boni) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap Series dua, Jilid 27: 107-112

Goedhart, O.H.

1908 “Drie Landschappen in Celebes (Banggai, Boengkoe, Mori)” (Tiga Lanskap di Sulawesi (Banggai, Bungku, MoriTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 50: 442-548.

Goor, J. van

1986 “Imperialisme in de Marge?” (Imperialisme di Pingiran) In J. van Goor, ed. Imperialisme in de Marge: De Afronding van Nederlands-Indië.  (Utrecht: H & S Uitgevers), 9-18.

Goslings, J.F.W.L.

1933 “De Toradjas van Galoempang” (Orang Toraja Galumpang (Catatan dari distrik Galumpang dari Onderafdeeling MamujuKoloniaal Tijdschrift 22: 1-32. Artikel ini berisi uraian mengenai lokasi, sejarah asal-usul mata pencaharian, kesehatan, adat kebiasaan sehubungan dengan life cycle dari penduduk Galumpang di Sulawesi Selatan. Dalam artikel tersebut terdapat uraian mengenai upacara-upacara sehubungan dengan perang dan pengayauan, upacara perkawinan dan upacara kematian. Artikel ini merupakan olahan dari “Memorie van het district Galumpang van de onderafdeeling Mamuju” di Sulawesi ‘Selatan. Pada halaman 4-16 terdapat uraian mengenai adat memotong kepala yang dilakukan penduduk tersebut dalam rangka upacara kematian seorang kepala desa (Tobara Pondang). Pada waktu menempati kembali suatu desa/kampung yang dulu ditinggalkan, pada waktu pembuatan rumah atau mengganti atapnya, pada waktu membuka ladang dan waktu panen, pada peristiwa-peristiwa lain misalnya panen gagal atau bila terjadi banyak kematian di kalangan penduduk juga diadakanlah upacara pemotongan kepala ini. Sebelum’ berangkat mencari kepala, terlebih dulu diadakan upacara yang disebut upacara maluluk berupa upacara persembahan kepada dewa-dewa. Sekembalinya dari perjalahan dan berhasil dalam tugas ada beberapa upacara pula yang harus dilakukan sebelum tengkorak kepala yang dibawa disimpan di rumah kepala’ desa. Sasaran para pemburu kepala umumnya ialah laki-laki dewasa dari desa-desa musuh atau kadang-kadang juga desa tetangganya.

 

Grubauer, Albert

1913 Unter Kofjägern in Central-Celebes (Di kalangan pemburu kepala di Sulawesi Tengah) (Leipzig, R. Voigtländer Verlag), 608 hlm., berilustrasi foto dan dilengkapi sebuah peta. Buku ini berupa laporan perjalanan yang dilakukan penulis selama tiga setengah bulan ke daerah-daerah Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Bagian pertama adalah catatan perjalanan ke daerah Sulawesi Tenggara, bagian kedua ialah perjalanan ke daerah Toraja Sulawesi Selatan, dan bagian ketiga ialah perjalanan dari Palopo melintas hingga ke Teluk Tomini di Sulawesi Tengah dan terakhir dari Teluk Tomini menjelajahi pegunungan Lore hingga tiba di Teluk Palu. Laporan tersebut mencakup deskripsi singkat mengenai penduduk-penduduk daerah yang dilalui beserta kebudayaannya seperti bentuk rumah, pakaian dan perhiasan, peralatan, adat permainan-permainan rakyat, adat pemotongan kepala upacara-upacara dan sebagainya. Pada akhir buku terdapat daftar nama-nama benda kebudayaan materiil dalam bahasa Jerman, bahasa Luwu Tobela, Toraja, To Dampu, To Napu, To Bada’ dan bahasa Kulawi. Dalam bahasa Jerman.

Hegener, Michiel

1990 Guerrilla in Mori: Het verzet tegen de Japanners op Midden-Celebes in de Tweede Wereldoorlog (Gerilya di Mori: Perlawanan terhadap Jepang di Sulawesi Tengah pada Perang Dunia Kedua) (Amsterdam: Uitgeverij Contact). Contoh bab buku.   Lihat juga dokumenter ini yang muncul di jaringan TV AVRO Belanda pada tahun 1995 yang disutradarai oleh Roelf van Til. Dalam bahasa Belanda dan Indonesia. 

Hissink, W.G.

1912a “NOTA van toelichting over de Berglandschappen boven het Paloedal” (Catatan penjelasan tentang Lanskap Pegunungan di atas Lembah PaluTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 54: 1-26
1912b “NOTA betreffende het Landschap Toli-Toli” (Catatan tentang Lanskap Toli-ToliTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 54: 27-57.
1912c “NOTA van toelichting betreffende de zelf-besturende landschappen Paloe, Dolo, Sigi en Beromaroe” (Catatan penjelasan tentang lanskap yang mengatur dirinya sendiri Palu, Dolo, Sigi dan BiromaruTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 54: 58-126.

Hoëvell, G.W.W.C. Baron van

1893a “Todjo, Posso en Saoesoe” (Tojo, Poso Dan SausuTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 35(1): 1-47
1893b “Bijschrift bij de Kaart der Tomini-Bocht.” (Keterangan Peta Teluk Tomini) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap Second Series (X): 64-72

Hofman, P.H.C.

1906 Een vredesconferentie te Poso” (Konferensi perdamaian di PosoMededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 50: 45-60.

Horn, N.A. van

1997 “Het Indisch Handelshuis Bauermann in de negentiende eeuw” (Handelshuis Bauermann di Hindia-Belanda di Abad Kesembilan BelasNEHA Jaarboek 60: 137-58.

Horsting, L. H. C.

1933 Uit Het Land Van Kruyt: Wat Midden-Celebes Ons Hollanders Leeren Kan. (Dari Negeri Kruyt: Apa Yang Bisa Dipelajari Sulawesi Tengah Pada Kita Orang Belanda.) (Bandoeng: A.C. Nix & Co.)

Jansen, Rien

1989 “De Economische Ontwikkeling van Celebes 1900-1938.” (Perkembangan Ekonomi Sulawesi 1900-1938Jambatan 7 (2): 65-79

Jongh, D. de

1924 “Een en ander over hoogere en lagere menschentypen onder de Toradja’s van West-Celebes” Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 44: 587-92.

Juynboll, H.H.

Kate, P. Ten

1911 Een eerste schrede op Napoesch taalgebied” (Langkah pertama di biddag bahasa Napu: Cerita Pewaliana Dunia) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 55 (1911): 391-416.
1913 Het Ende Feest” (Pesta Ende) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 57: 35-55. Artikel ini berisi uraian mengenai upacara kematian pada orang Toraja Napu di Sulawesi Tengah. Penduduk Napu mempunyai kebiasaan untuk mengupacarakan seseorang yang mati terutama bila yang mati itu seorang terkemuka upacaranya diadakan dalam 2 tahap. Tahap pertama disebut upacara Moweiha yaitu upacara kecil yang diadakan segera setelah meninggal dan berakhir dengan jenazah dikubur atau disimpan di peti pada suatu tempat khusus. Selang beberapa waktu atau tahun diadakan upacara/pesta yang kedua disebut Ende (di daerah Poso disebut Tengke) setelah terkumpul biaya untuk maksud tersebut sebab biaya pesta ini sangat besar dengan pemotongan ternak’ sebagai kurban sampai 10 ekor kerbau. Menurut penulis pesta. Ende ini bertujuan untuk mengan tar roh si mati agar dapat tempat di negeri roh. Pada kematian seorang kepala desa diperlukan kurban manusia untuk mengakhiri masa perkabungan. Dalam artikel ini diurajkan juga tentang perubahan yang tampak dalam upacara-upacara tersebut setelah masuknya agama Islam ke daerah tersebut.
1915a De Voornaamwoorden in het Napoesch” (Kata ganti dalam Bahasa Napu) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 59: 65-79.
1915b Het Maraego” (Maraego) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap, 59: 332-338. Artikel ini berisi uraian tentang tari Moraego yang amat populer di kalangan penduduk Sulawesi Tengah. Pada masa dulu tarian ini bersifat ritual yakni dilakukan dalam rangka upacara memperkuat kekuatan hidup penduduk, tanaman maupun ternak. Akan tetapi sampai pada masa penulisan artikel tersebut, menurut penulis tarian itu sudah kehilangan arti ritualnya dan hanya merupakan tarian sosial semata-mata. Tarian ini dilakukan pada malam hari sampai kadang-kadang semalam suntuk. Ditarikan oleh pria yang belum atau sudah kawin dengan para gadis. Tarian ini pernah dilarang pada masa Zending bekerja di sana oleh karena dianggap menimbulkan krisis moral dengan terjadinya hubungan seks antara sesama penari.
1919 “Napoe-sche Verhalen” (Cerita Dongeng Napu) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 63(1919): 45-59 oleh P. Ten Kate dan diredaksikan A. Adriani dalam bahasa Belanda/Napu. (Terjemahan dalam Bahasa Inggris).

Keers, W.

1939 Over de Verschillende Vormen van het Bijzetten der Doden bij de Sa’dan Toradja” (Tentang Berbagai Bentuk Pemakaman Orang Mati di Sa’dan Toradja) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap 2 series 56(2): 207-213.
1941 Anthropologische beschouwingen over de bewoners van Zuidwest en Zuid-Midden Celebes” Geneeskundig Tijdschrift van Nederlandsch-Indië 81: 1783-836.

Kleiweg de Zwaan, J.P.

1918 De verhouding tot de aangetrouwde familie in den Indischen Archipel” (Hubungan dengan keluarga istri /suami di kepulauan Indonesia) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 74: 519-561. Artikel ini menguraikan mengenai hubungan kekerabatan penduduk Toraja Bare’e Sulawesi Tengah, khususnya sistem istilah kekerabatan seorang individu dengan keluarga pihak suami atau pihak istri. Menurut adat, pantang untuk menyebut nama mertua, dan saudara kandung mertua. Sebagai contoh apabila nama salah satu kerabat tersebut kuda, harus diperhatikan benar dalam percakapan nama kerabat tersebut harus diganti dengan sebutan lain apabila orang sedang mempercakapkan hewan kuda. Menurut penulis adat tersebut biasanya terdapat dalam masyarakat yang memiliki adat matrilokal. Dalam artikel ini selain dari Toraja Bare’e diuraikan juga sistem istilah kekerabatan di kalangan masyarakat Jawa, Gayo. Aceh. Seram dan sebagainya.
1923 Een paar Beeldjes uit Midden-Celebes” (Beberapa Patung dari Sulawesi TengahNederlandsch Tijdschrift voor Geneeskunde 67(16): 1-3

Kobong, Theodorus

1989 Evangelium Und Tongkonan: Eine Untersuchung Über Die Begegnung Zwischen Christlicher Botschaft Und Der Kultur Der Toraja. (Injil Dan Tongkonan: Penyelidikan Pertemuan Antara Pesan Kristen Dan Budaya Toraja.) (Ammersbek bei Hamburg: Verlag an der Lottbek).

Koubi, Jeanine

1982 Rambu Solo’, ‘La Fumee Descend’; Le Culte des Marts chez les Toradja du Sud, (Rambu Solo’, ‘Asap Turun’; Kultus kematian di antara Orang Toraja Selatan) (Paris: Editions du CNRS) (Dalam Bahasa Perancis)
2003 Histoires d’enfants exposés, Pays Toraja, Sulawesi, Indonésie. (Cerita anak-anak terekspos, Tana Toraja, Sulawesi, Indonesia) (Paris : Presses de l’Université de Paris-Sorbonne.) (Dalam Bahasa Perancis)
2008 Il Était Une Fois Des “Esclaves”: Le Cas Des Toradja De Célèbes. (Alkisah “Budak”: Kasus Toraja Sulawesi) (Paris: PUPS) (Dalam Bahasa Perancis).

Kraemer, Hendrik

1935 Dr N. Adriani. (Amsterdam: H.J. Paris).

Kruyt, A. C.

1892 Mijne eerste reis van Gorontalo naar Poso (Posso) met den Gouvernementsstoomer ‘Zeeduif’ 4-16 Februari 1892” (Perjalanan pertama saya dari Gorontalo ke Poso (Posso) dengan Kapal uap pemerintah ‘Zeeduif’ 4-16 Februari 1892) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 36(2): 225-56.
1892 Mijne eerste ervaringen te Poso” (Pengalaman pertama saya di Poso) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 36(3): 369-406.
1893a  “Grammaticale Schets van de Bare’e-Taal.” (Sketsa Tata Bahasa Bahasa Bare’e) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 42: 203-33.
1893b “Eenige feesten bij de Poso-Alfoeren.” (Beberapa Upacara di Poso-Alfoeren) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 37: 115-129.
1893c Mijne eerste ervaringen te Poso (vervolg)” (Pengalaman pertama saya di Poso (lanjutan)) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 37(1): 1-30.
1893d Mijne tweede reis van Gorontalo naar Poso” (Perjalanan kedua saya dari Gorontalo ke Poso) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 37(1): 101-14.
1894a Woordenlijst van de Bare’e-Taal. (Daftar Kata Bahasa Bare’e) ‘S-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
1894b “Naar het Meer van Poso” (Ke Danau Poso) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 38(1): 1-23.
1894c “De foeja-bereiding in Poso” (Persiapan Fuya di Poso) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 38(1): 392.
1894d “De legenden der Poso-Alifoeren aangaande de eerste menschen”  (“Legenda Alifuru Poso Tentang Manusia Pertama”) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 38(1): 339. Legenda atau mite yang berasal dari daerah Poso (Sulawesi Tengah) mengenai manusia pertama menceritakan mula-mula tentang penciptaan manusia dari batu oleh dewa Lamoa (motif A.1245, Man created from stone). Kemudian kepada pasangan manusia oleh Lamoa diberikan pilihan antara hidup abadi seperti batu atau hidup seumur pohon pisang. Maka karena manusia memilih pisang itulah sebabnya hidupnya pun seumur pohon pisang (motif A.1325, Short span of life for first men). Selanju tnya legenda ini menceritakan seorang tokoh bernama Lasaeo yang turun dari langit dan membawa hal-hal baru di bidang ekonomi dan kebudayaan manusia (motif A.541, Culture hero teaches arts and crafts), Di bumi Lasaeo kawin dengan wanita dari bumi yang kemudian punya anak. Suatu ketika Lasaeo gusar karena tindakan istrinya, lalu ia kembali ke langit sendiri melalui rotan. Setibanya di langit ia memutuskan rotan yang menghubungkan langit dan bumi (motif A.560 ff, Culture hero departs dan motif F.51.1 2, Vine as sky rope).
1895-7  “Een en Ander aangaande het Geestelijk en Maatschappelijk Leven van den Poso-Alfoer.” (Satu dan lain hal tentang kehidupan rohani dan kemasyarakatan dari penduduk Alfuru-Poso) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap Vol. 39:3-36, 106-53, Vol. 40:7-31, 121-60, 245-282, Vol. 41:1-52. Uraian tentang mata pencaharian, peralatan, kerajinan tangan permainan rakyat dan alat musik dari penduduk Poso di Sulawesi Tengah.
1895 De Tengke-offer bij de Posso-Alifoeren” (Pengorbanan “Tengke” di Poso) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 39(1): 230.
1898 Van Palopo naar Posso” (Dari Palopo ke Poso) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 42: 1-106. Kisah perjalanan dari Palopo, Sulawesi Selatan ke Poso, Sulawesi Tengah. Tercakup di dalamnya uraian tentang mite Sawerigading, mengenai sistem kepercayaan, perbudakan, dan permainan kanak-kanak. Juga terdapat uraian mengenai sejarah kekuasaan kerajaan Luwu atas daerah pedalaman Sulawesi Tengah.
1899a De Weerwolf bij de Toradja’s van Midden-Celebes.” (Manusia Serigala (Pongko) di Toraja Sulawesi TengahTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde XLI: 548-67. Toraja Sulawesi Tengah adalah kepercayaan terhadap jadi-jadian (lycanthropy) yakni seorang manusia yang memiliki kekuatan dalam dirinya untuk berubah wujud menjadi hewan. Makhluk ini amat ditakuti oleh karena dianggap gemar memakan hati manusia tanpa sepengetahuan si korban. Biasanya beberapa hati setelah itu korban akan mati karena tidak lagi memiliki hati. Cara kerja jadi-jadian tersebut yakni mengincar korbannya yang sedang berjalan atau bekerja di ladang sendirian, dengan dibuat mengantuk. Setelah tertidur pulas perutnya dibelah dan hatinya dikeluarkan dan dilalap. Dengan satu jilatan, perut korban yang menganga bertaut kembali tanpa bekas. Korban yang kemudian terbangun tidak merasakan perubahan apapun pada dirinya ketika itu, dan baru jatuh sakit beberapa hari kemudian dan umumnya diakhiri dengan kematian. Jadi-jadian ditakuti karena dianggap dapat menularkan sifat-sifatnya kepada manusia lain melalui makanan minuman, sentuhan dan sebagainya. Ada beberapa ciri khas untuk dapat mengenali jadian-jadian ini yakni manusia yang memiliki mata berwarna kehijauan, biji mata yang menonjol, lidah yang lebih panjang dari ukuran manusia biasa, kulit tampak gelap di sekitar mata, dan sebagainya. Penduduk bersangkutan umumnya cepat mencurigai seseorang yang memiliki ciri atau seperangkat ciri tersebut di atas, umumnya mereka menguji coba individu yang dicurigai demikian dengan memaksa yang bersangkutan untuk mencelupkan jari telunjuknya dalam rebusan damar. Bila tertuduh kesa- kitan pertanda bahwa tuduhan itu benar dan yang bersangku tan dihukum bunuh atau dijual kepada desa lain yang memerlukan budak dalam hubungan upacara tertentu yang memerlukan kurban manusia yang dipenggal kepalanya. Penulis menyebutkan bahwa kuatnya kepercayaan terhadap jadia-jadian ini antara lain merupakan penyebab seringnya terjadi perang antar desa di daerah Sulawesi Tengah. Oleh karena biasanya pihak keluarga tertuduh yang dijual ke desa lain membalas tindakan dengan menculik kembali warga desa lain yang kemudian mereka bunuh pula. Akibatnya timbul permusuhan di antara desa-desa bersangkutan.
1899b De Adoptie in Verband met het Matriarchaat bij de Toradja’s van Midden Celebes.” (Adopsi dan hubungannya dengan sistem matriarchat pada orang Toraja Sulawesi Tengah)  Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde XLI: 80-92. Adopsi atau pengangkatan anak merupakan kebiasaan pada penduduk Toraja di Sulawesi Tengah dengan mengangkat anak pertama dari baik laki-laki atau perempuan dari Saudara sekandungnya umumnya dari pihak laki-laki. Pengangkatan anak pada umumnya dilakukan tanpa upacara apa pun kecuali di daerah Luwu. Anak angkat menerima warisan dari orang tua angkatnya bila meninggal biarpun si anak kembali ke orang tuanya. Jadi ialah yang mengatur warisan orang tua angkatnya karena si ‘anak tadi merupakan anak pertama dari orang yang mengangkatnya, sebab kebiasaan adopsi dilakukan sebelum sepasang suami istri’ mempunyai keturunan sendiri. Hak atas warisan seorang anak angkat hilang apabila orang tua angkatnya bercerai dan si anak memilih turut ibu angkatnya.
1899c “Het Stroomgebied van de Tomasa-Rivier” (Daerah aliran sungai TomasaTijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap tweede series 16: 593-618. Artikel ini berisi tentang lokasi dari desa-desa yang didiami oleh penduduk Kadombuku, Lage, Pebato dan lain-lain di bagian sebelah timur Sulawesi Tengah.
1899d “Het koppensnellen der Toradja’s van Midden-Celebes en zijne beteekenis”  (Pengayauan dan latar belakangnya pada orang Toraja Sulawesi Tengah) Verslagen en Mededeelingen der Koninklijke Academie van Wetenschappen 4e reeks, Deel III: 147-229. Penulis dalam artikelnya menguraikan adat kebiasaan memotong kepala pada penduduk Toraja di Sulawesi Fengah. Mulai persiapannya, jalannya peperangan yang dilakukan dalam rangka mengambil kepala biasanya dari daerah desa yang dianggap musuh. Kemudian pantangan-pantangan yang harus diturut baik oleh yang berangkat perang maupun oleh keluarga yang ditinggalkan demi berhasilnya pekerjaan. Pemotongan kepala pada umumnya dihubungkan dengan upacara-upacara tertentu seperti upacara kematian golongan bangsawan, upacara pembangunan rumah, upacara pertanian. Kepala/tengkorak biasanya ditaruh di balai sakral (lobo), tapi ada pula yang dibuang dan hanya diambil kulit kepalanya saja. Kemudian penulis “juga menguraikan teorinya tentang konsep roh/jiwa pada orang Toraja. Menurut pendapatnya, penduduk Toraja membedakan antara inosa yaitu napas, angga yakni roh/jiwa yang keluar melepaskan diri dari tubuh manakala manusianya mati, kemudian tanoana ialah jiwa manusia yang hidup.
1900a “Eenige ethnographische Aanteekeningen omtrent de Toboengkoe en de Tomori” (Beberapa Catatan Etnografi tentang Tobungku dan Tomori) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 44(1): 215.
1900c “Het Rijk Mori”   (Karajaan MoriTijdschrift KNAG 2nd series, 17: 436-66.
1901a “Regen Lokken en Regen Verdrijven bij de Toradja’s van Midden Celebes”   (Memancing dan mengusir hujan pada orang Toraja di Sulawesi TengahTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 44: 1-11. Ada suatu kepercayaan di kalangan penduduk Toraja di Sulawesi Tengah bahwa hujan itu dapat dipancing agar turun atau ditahan agar tidak turun. Cara-cara yang umum dijalankan oleh penduduk sehubungan dengan itu ialah: bersimbur-simburan air di sungai, dan mengikat daun aren (arennya sacharifera) daun pohon sagu (metroxylon) dengan pohon aren tersebut. Menurut dongeng yang terkenal di daerah ini ialah bahwa kedua jenis pohon tersebut bermusuhan, jadi apabila diikat jadi satu maka akan berusaha melepaskan diri dengan minta bantuan kepada dewa di langit sebelumnya agar menurunkan hujan, sebab manusia mengancam tidak akan melepaskan ikatan itu apabila hujan belum turun.
1901b “Het Wichelen in Midden-Celebes”  (Meramal di Sulawesi Tengah)  Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 44: 85-96. Penduduk Toraja Sulawesi Tengah amat percaya kepada tanda-tanda dan perlambang-perlambang. Salah satu bentuknya adalah meramal dengan menggunakan berbagai objek, diantaranya adalah sejenis alang-alang (andropogon halepensi) biji-biji jagung, seutas tali atau benang pendek berjumlah 8 buah, jerohan binatang biasanya ayam, telur mentah, beras, tombak, dan damar yang mendidih. Mobolobiangi atau meramal dilakukan dalam hal-hal: sebelum mulai suatu pekerjaan, untuk mengetahui hasil akhirnya, atau sebelum mulai mengobati seseorang yang sakit, juga dalam kasus-kasus pengadilan. sehubungan dengan pengadilan ini dilakukan dengan menguji seorang tertuduh yang dianggap jadi-jadian dengan mencelupkan telunjuknya ke dalam rebusan damar.
1901c
Het ijzer in midden-CelebesBijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 53(1/2):  148-160
1903
1903
De Rijstmoeder in den Indischen Archipel” (Ibu padi di kepulauan Indonesia) Verslagen en Mededeellingen der Koninklijke Academie van Wetenschappen, V, 51 hlm. Artikel ini berupa uraian mengenai kebiasaan penduduk di kepulauan Indonesia untuk menyisihkan padi pertama (ikat pertama) yang dituai yang kemudian diperlakukan sebagai pelindung (ibu) padi. Caranya ialah dengan mengikatnya baik-baik dan ditempatkan khusus di sawah dengan diberi sesajian dan kadang-kadang padi itu diberi sesajian dan kadang-kadang padi itu diberi pakaian. Di daerah Sulawesi Tengah pada penduduk Toraja Bare’e ada ibu padi dan bapak padi yang disebut tadoelako dan Indonapare yang menurut kepercayaan mereka dianggap dapat mempersatukan rohnya padi dan sebagai pelindung padi dapat mencegah roh padi tidak lari pada waktu menuai. Masa menuai padi pertama kali dianggap sebagai masa yang gawat dan begitu pula pada waktu pertama kali memasak padi yang dituai lebih dulu. Ada sejumlah pantangan yang harus diperhatikan oleh penduduk sehubungan dengannya. Apabila terjadi pelanggaran terhadap pantangan tersebut maka roh padi akan lari/hilang. Dan dengan hilangnya roh padi itu maka beras yang di makan itu telah kehilangan kekuatannya sehingga tidak berarti apa-apa bagi jasmani dan rohani manusia yang memakannya. Penulis memberikan lukisan jalannya upacara pertanian sehubungan dengan ibu padi pada penduduk Lage di Sulawesi Tengah. Penulis juga menguraikan tentang kepercayaan dan kebiasaan sekitar ibu padi ini di daerah-daerah lain di Indonesia.
1906 Het animisme in den Indischen archipel (‘S-Gravenhage: M. Nijhoff). Buku ini berisi konsep-konsep penulis mengenai Animisme. spiritisme dan Daemologi dalam hubungan religi/kepercayaan penduduk kepulauan Indonesia. Dari setiap konsep tersebut penulis memberikan sejumlah contoh ilustrasi kepercayaan religi penduduk Indonesia termasuk contoh dari penduduk Toraja Sulawesi Tengah dan Selatan.
1907 De invloed der zending op de maatschappij der inlandersOnze Eeuw 7: 45-80.
1907 “Het Indonesische  Rechter in het Hiernamaals” (Hakim Indonesia di Akhirat) Verslagen en Mededeellingen der Koninklijke Academie van Wetenschappen  4(8): 293.
1908 “De Berglandschappen Napoe en Besoa in Midden-Celebes” (Daerah pegunungan Napu dan Besoa di Sulawesi Tengah) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap 2nd ser. 25(6): 1271-1344. Artikel ini berisi uraian mengenai penduduk Napu dan Besoa di daerah pegunungan Sulawesi Tengah. Di dalamnya tercakup uraian mengenai pelapisan sosial, upacara-upacara, struktur bangunan, dan kerajinan tangan dati penduduk yang bersangkutan.
1909 “Het Landschap Bada in Midden-Celebes” (Lanskap Bada di Sulawesi Tengah) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap 2nd ser. 26(3): 349-80.
1910 Papa i Woente. (Papa I Wunte) Rotterdam, M. Wyt & Zonen.
1911 De Slavernij in Posso (Midden-Celebes).” (Perbudakan di Posso (Sulawesi Tengah)Onze Eeuw 11: 61-97
1912 Met N. Adriani De Bare’e-Sprekende Toradjas van Midden-Celebes (Toraja Sulawesi Tengah yang Berbahasa Bare’e) Volume 1,  Volume 2(3 vols.) (Batavia: Landsdrukkerij).
1913 Ta Lasa: Een Tegenhanger van Papa i Woente. (Ta Lasa: Lawan Papa i Wunte.) Den Haag, Boekhandel van den Zendings-Studie Raad.
1913 De Godsdienstig-Politieke Beweging “Mejapi” op Celebes” (Gerakan politik keagamaan Mejapi di SulawesiBijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 67(1): 135-151. Artikel ini menguraikan suatu gerakan kebatinan dari penduduk Toraja Pakambia di Sulawesi Tengah. Gerakan ini intinya adalah menentang keadaan baru dan kekuasaan baru yang diidentikkan dengan zending dan kegiatan mereka, baru kemudian kekuasaan pemerintah Belanda yang datang setelah Zending ke Sulawesi Tengah. Diuraikan contoh mengenai cara-cara bekerja dari penganut gerakan kebatinan ini, di samping itu disebut pula contoh-contoh gerakan kebatinan dari luar Sulawesi.
1918 “Measa, Eene Bijdrage Tot het Dynamisme der Bare’e-Sprekende Toradja’s en Enkele Omwonende Volken.”(Measa, suatu pengantar kepada kepercayaan dinamisme orang Toraja Baree dan beberapa penduduk sekitarnya) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië LXXIV: 233-60. Menurut penulis, orang Toraja Bare’e atau disebutnya Toraja Timur di Sulawesi Tengah percaya akan adanya suatu kekuatan sakti yang bilamana dilepaskan dapat menimbulkan bahaya gaib. Kekuatan sakti yang berbahaya ini disebut measa. Kekuatan sakti ini terdapat dalam bagian-bagian tubuh dan zat-zat tubuh manusia seperti air mata, ludah, kotoran manusia, darah, rambut, kuku. gigi, sperma dan sebagainya. Di samping itu berbagai perbuatan dan tindakan manusia mungkin menimbulkan measa. Misalnya seperti berteriak-teriak, bersin, menyumpah-nyumpah, tertawa keras-keras dan sebagainya. Kekuatan sakti ini juga dijumpai dalam berbagai jenis binatang dan tumbuhan. Misalnya pohon kelapa, pisang, pinang, aren, labu dan sebagainya. Juga kekuatan itu terdapat dalam bilangan tertentu seperti angka 7 dianggap angka yang dapat menimbulkan bahaya. Kemudian tindakan-tindakan manusia seperti memecahkan periuk nasi dan sebagainya.
1919  Measa, Eene Bijdrage Tot het Dynamisme der Bare’e-Sprekende Toradja’s en Enkele Omwonende Volken- Vervolg.” (Measa, suatu pengantar kepada kepercayaan dinamisme orang Toraja Baree dan beberapa penduduk sekitarnya) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië LXXV: 36-133.
1920 Measa, Eene Bijdrage Tot het Dynamisme der Bare’e-Sprekende Toradja’s en Enkele Omwonende Volken – Vervolg.” (Measa, suatu pengantar kepada kepercayaan dinamisme orang Toraja Baree dan beberapa penduduk sekitarnyaBijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië LXXVI: 1-116
1920 “De To Rongkong in Midden Celebes” (Orang Rongkong di Sulawesi TengahBijdragen KITLV 76(3/4): 366-97. (Terjemahan dalam Bahasa Inggris). Artikel ini berupa monografi singkat mengenai ‘penduduk Toraja Rongkongj di Sulawesi Selatan yang berisi uraian tentang sejarah asal-usul orang Rongkong, pola menetap struktur rumah, pertanian dan pakaian. Dalam artikelnya penulis: yaitu pada halaman 391, menguraikan upacara kematian orang Toraja Rongkong. Upacara kematian bagi lapisan bangsawan berlangsung selama kurang lebih 5 hari lamanya. Hari pertama mayat dimandikan (hanya bagian muka saja) kemudian diberi pakaian. Hari kedua ke dalam mulut jenazah dimasukkan bubuk emas, lalu jenazah tersebut dibalut oleh seorang ahli. Hari ketiga jenazah dimasukkan ke dalam peti dan ke dalamnya dimasukkan juga perhiasan-perhiasan dan senjata . ‘Hari keempat adalah hari pesta kematian yang disebut Pa’ladara, di mana dikurbankan kerbau dari jumlah 4. ekor sampai 50 ekor. Dagingnya dimasak untuk menjamu tamu dan kerabat yang datang. Hari kelima jenazah dibawa ke tempat pengu- buran dengan turunnya dari rumah melalui lubang khusus yang dibuat pada dinding (bila yang meninggal seorang bangsawan Tomakaka) lalu seekor kerbau dikurbankan. Esok harinya di atas kuburan dibangun sebuah pondok juga seekor kerbau, babi dan anjing dibantai di sini. Setelah itu secepatnya harus dicarikan sebuah kepala mantusia yang dibeli dari orang Seko. Kepada yang mengantarnya diberikan 2 ekor kerbau, seekor babi dan seekor anjing. Kepala yang diterima itu dilemparkan 3 kali ke dalam pondok mati tersebut, kemudian dibawa ke Pa’dalara lalu dibakar. Keesokan harinya diadakan malolo antara l sampai 10 kerbau dibantai lagi ditambah seekor babi: Setelah itu maka keluarga yang berduka boleh makan nasi lagi yang selama upacara kematian berlangsung pantang makan. Keespkan harinya rumah yang kematian dibersihkan, kemudian diadakan makan bersama dengan penduduk desa yang untuk keperluan ini dibantai seekor. babi. Menjelang malam seekor anak ayam dipanggang dan dibuang ini dianggap makanan terakhir bagi roh orang mati. Sejak hari itu selesailah segala upacara, persembahan peringatan pada si mati, dan kurbannya pun sejak itu tidak lagi diperhatikan. Menurut penulis, pada kematian orang biasa penguburan dilakukan pada hari yang sama dengan atau tanpa menggunakan peti bila tidak mampu. Pada halaman 374 terdapat uraian mengenai seni menenun pada orang Toraja Rongkong di Sulawesi Selatan. Kerajinan tenun orang Toraja ini, sepanjang ingatan penduduknya, berasal dari Sa’dan yang dibawa ke daerah Rongkong oleh orang Sa’dan yang pindah ke daerah ini. Teknik ikat dalam seni tenun ini tidak dikenal atau tak diingat lagi oleh penduduk Sa’dan sendiri. Tenunan Rongkong yang dibuat dengan teknik ikat ini tidak dipakai sebagai pakaian sehari-hari tetapi khusus untuk pembungkus jenazah atau dijual keluar daerahnya. Pakaian penduduk sehari-hari adalah tenunan (sarung dan baju) yang dibuat dengan teknik biasa. Bahan tenun di masa lampau ialah dari serat sejenis pohon areca (pohon ka’du), kemudian penduduk menggunakan kapas setelah mereka menanam sendiri tanaman kapas. Kemudian penduduk menggunakan kapas sebagai bahan. Setelah itu lazimlah benang kapas digunakan dan mudah diperoleh di pasar-pasar maka penduduk pun memakai benang tenun. Menurut penulis, orang Rongkong tidak mengenal pembuatan pakaian kulit kayu apalagi memakainya.
1920 “De To Seko in Midden Celebes” (Orang Seko di Sulawesi Tengah) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 76(3/4): 398-430. Artikel ini merupakan monografi singkat dari penduduk Toraja Seko yang berlokasi diperbatasan propinsi Sulawesi Tengah dan propinsi Sulawesi Selatan (kini), yang meliputi antara lain mengenai sejarah asal usul, bentuk rumah, upacara-upacara yang berhubungan dengan life cycle, sistem kepercayaan dan kerajinan tangan.
1921 “Volksverhalen van het Oost-Toradjas op Midden Celebes” (Dongeng-dongeng rakyat dari Toraja Timur di Sulawesi TengahTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, 80: 24-265. Tulisan ini berupa himpunan dongeng dari daerah Toraja Timur (Toraja Bare’e) di Sulawesi Tengah, terdiri dari 7 buah dongeng disertai penje lasan dan teori diantaranya teori inisiasi dari Rassers, beberapa dongeng tersebut diantaranya ialah 1. Dongeng Kambing yang kawin dengan pangeran (motif D 334, Transformation goat to person) dan dongeng mengenai wanita yang memiliki vagina yang dapat berbicara (motif D 1610, Speaking privates. Man given advice by his private parts). Dalam analisanya ia gunakan teori inisiasi Rasser.
1922 “Een en ander over de To Laki van Mekongga (Zuidoost-Selebes)” (Beberapa hal tentang To Laki Mekongga (Selebes Tenggara)Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 61: 427-70.
1923a “Het Volksonderwijs in Beheer bij de Zending.” (Pendidikan publik dalam manajemen Misi.) Koloniaal Tijdschrift 12: 426-33.
1923b “Koopen in Midden Celebes” (Belanja di Sulawesi Tengah) Mededeelingen der Koninklijke Akademie van Wetenschappen Afdeeling Letterkunde Series B, 56: 149-78.
1923c “De Toradja’s van de Sa’dan-, Masoepoe- en Mamasa-Rivieren” (Penduduk Toraja dari daerah aliran sungai-sungai Sa’dan, Massuppu dan MamasaTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 68: 81-176. Artikel ini berisi uraian mengenai pelbagai hal dari penduduk Toraja yang berlokasi di daerah-daerah sepanjang aliran sungai-sungai Sa’dan, Massappu dan Mamasa di Sulawesi Selatan, seperti mite dan legende asal usul mereka, upacara-upacara sekitar life cycle dari kelahiran, hingga kematian. Dalam artikel terdapat legenda Londong, di Rura, yakni legenda yang populer di kalangan penduduk Toraja Selatan yang bermotifkan pantangan (incest), perkawinan di antara Saudara sekandung yang terjadi disuatu tempat bernama Rura (dekat Enrekang) yang menimbulkan kemurkaan dewa dan dijatuhi hukuman berupa air bah yang menenggelamkan seluruh desa Rura hingga berupa danau sampai kini. (motif A. 1018.2, Flood as punishment for incest).
1924a De Rechtspraak der Possoers onder het Indisch Gouvernment.” (Kehakiman orang Poso di bawah Pemerintah Hindia Belanda.) Koloniale Studien 8 (1): 401-20.
1924b Het Stelen in Midden Celebes” (Pencurian di Sulawesi TengahVragen van de Dag 1-22.
1924c “De Hoofden in Midden Celebes onder het Nederlandsch-Indisch Gouvernment.” (Para Kepala di Sulawesi Tengah di bawah Pemerintah Hindia Belanda.) Koloniaal Tijdschrift 13: 23-44.
1924d “Het Huwelijksrecht in Posso en Zijne Ontwikkeling.” (Hukum perkawinan di Poso dan perkembangannya) Koloniaal Tijdschrift 13: 466-82. Artikel ini menguraikan hukum perkawinan di berbagai daerah di Indonesia seperti di Mentawai, Nias, Batak dan Poso. Menurut penulis, berdasarkan rekonstruksi sejarah migrasi penduduk yang masuk ke daerah Sulawesi Tengah ialah penduduk yang memiliki sistem patriarhat, kemudian berkembang ke arah matriarchat.
1924d De beteekenis van den natten Rijstbouw voor de Possoers.” (Arti pertanian sawah bagi penduduk Poso) Koloniale Studien 8(2): 33-53. Artikel ini berisi uraian mengenai pengaruh sistem persawahan terhadap agama asli penduduk Toraja Poso di Sulawesi Tengah. Menurut penulis agama asli penduduk mulanya adalah dynamisme (kekuatan sakti dalam benda-benda). Sistem berladang erat hubungannya dengan kepercayaan dinamisme, setelah itu datang sistem persawahan baru. Manusia kemudian merasa tak berdaya menghadapi kekuatan alam yang dapat mempengaruhi tumbuhnya padi. Lalu manusia mulai memuja alam yang dapat menolong, yaitu kepada roh yang ada di sekeliling mereka. Inilah pangkal mula kepercayaan anymisme. Selanjutnya dalam kehidupan penduduk Poso sehari-hari kedua anasir bentuk kepercayaan tersebut tampak berdampingan. Penulis juga menguraikan sedikit mengenai makanan penduduk Poso sebelum mengenal beras atau padi.
1925 Van Heiden tot Christen. (Dari Kafir Menjadi Kristen) (Oestgeest: Zendingsbureau Oegstgeest.)
1926 Pakawa, een landstreek in de onderafdeeling Paloe (Midden Celebes)” (Pakawa, suatu daerah dari onderafdeeling Palu ( Sulawesi Tengah )) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap, 63(4). Artikel ini merupakan suatu etnografi dari penduduk Pakawa yang berlokasi di daerah pegunungan di antara lembah Palu dan pantai Selat Makasar, yang dianggap paling terbelakang di Sulawesi Tengah bagian barat.
1929 “Raadsels en de dooden.” (Teka-teki dan orang mati) (terjemahan dalam bahasa Inggris Riddles of the Dead oleh Greg Acciaioli) Feestbundel uitgegeven door het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen bij gelegenheid van zijn 150-jarig bestaan 1778–1928, volume 1, 383–392. Mowaino atau Mowailo adalah istilah penduduk Sulawesi Tengah untuk berteka-teki. Pada masa dulu kebiasaan ini pada penduduk Toraja bagian barat Sulawesi Tengah terutama disebutkan apabila ada kematian seorang terkemuka. Sebelum jenazah dikuburkan haruslah jenazah tersebut ditunggui yang kadang-kadang memakan waktu berhari-hari. Maka untuk menghilangkan rasa jemu pada waktu menunggui, sambil menghibur diri yang kematian, para penunggu berlombalomba berteka-teki. Isi teka-teki selalu berhubungan dengan si mati. Misalnya ada pertanyaan: Ada rumah tanpa jendela tanpa pintu tapi ada pintunya ke bawah dan didiami oleh 20 orang. Harus dijawab: peti mati. Rumah tanpa jendela dan pintu ialah peti, sedang pintu ke bawah ialah lubang di bawah peti pembuang cairan tubuh jenazah, dan penghuni 20 orang ialah jumlah jari kaki dan tangan si mati. Pada penduduk Toraja bagian timur Sulawesi Tengah teka-teki yang lebih umum dilakukan ialah yang berhubungan dengan pertanian. Yaitu ketika bulir padi mulai berisi para penduduk berteka-teki hingga padinya siap untuk dituai. Menurut penulis maksud teka-teki ini ialah untuk membantu proses tumbuhnya padi secara magis dengan menggunakan kata-kata tersimpan pada jawaban teka-teki sendiri. Teka-teki yang lebih umum sifatnya seperti teka-teki jenaka banyak didapati pada penduduk tersebut. Contoh: Ada orang pakai topi emas tapi tak mau dilihat orang lain. Jawabnya: Tahi kerbau yang tertutup oleh kerumunan lalat besar. Contoh-contoh diberikan penulis dalam bahasa Belanda.
1930 “De To Wana op Oost-Celebes”  (Orang To Wana di Sulawesi Timur) Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 70: 397-627. Artikel ini menguraikan mengenai orang To Wana yang berlokasi di Sulawesi Tengah bagian timur, yakni mengenai asal-usulnya, kepercayaannya, mitologi, mata pencaharian hidupnya, struktur rumahnya, upacara-upacara sehubungan dengan lingkaran hidup (life cycle) mengenai tradisi perang dan adat pemenggalan kepala, kemudian mengenai bahasa, permainan dan alat musik. Dalam tulisan ini terdapat uraian singkat mengenai bahasa yang khusus digunakan dalam perburuan. Pada halaman 594 terdapat uraian mengenai kematian pada orang Wana yang meliputi mite tentang asal mula kematian, kepercayaan terhadap sejumlah tanda-tanda dan alamat-alamat yang berhubungan dengan akan adanya peristiwa kematian seperti bunyi katak di kolong rumah, kunang-kunang masuk rumah dan sebagainya. Kemudian diuraikan mengenai upacara pemakaman jenazah. Pemakaman jenazah biasanya diselenggarakan pada hari yang sama: Sebelum dintakamkan jenazah lebih dulu dibersihkan lalu’dibungkus dengan beberapa lapis diantaranya dengan fuya, kain katun putih atau kulit kayu, jadi tanpa peti. Pada perjalanan ke tempat penguburan jenazah dibawah ke luar rumah’melalui dinding rumah yang sengaja dibuatkan lubang. Pada hari-hari ke-3, ke-8, ke-16 dan 18 dilakukan upacara/pesta selamatan dalam rangka kematian tersebut. Pada halaman 476 terdapat uraian mengenai bangunan rumah orang Wana disertai sketsa denah rumah. Desa orang Wana pada umumnya terdiri dari sejumlah rumah keluarga besar (extended family). Pada waktu mengerjakan ladang orang Wana biasanya tinggal dalam pondok sementara yang dibangun dekat ladang mereka. Pada halaman-halaman 425, 430, 433, 436, 444 tulisan tersebut terdapat uraian mengenai pengobatan, cara-caranya serta upacara-upacara pengobatan orang sakit, serta peranan dukun dalam rangka pengobatan dalam masyarakat suku Wana di Sulawesi Tengah. Pada halaman 592-594 dalam artikel tersebut diuraikan mengenai pelbagai jenis alat musik yang digunakan oleh orang To Wana seperti: gendang ganda, kemudian jenis instrumen tali seperti geso-geso, popondo dan tamburu, kemudian jenis alat tiup lori (sejenis harmonika), lolowe atau seruling yang ditiup dari hidung, dan tulali jenis seruling yang ditiup dengan mulut, kemudian kua-kua sejenis klarinet.
1930 “De To Loinang van den Oostarm van Celebes” (To Loinang dari Lengan Timur Sulawesi) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 86(3/4): 327-536.
1931 “Het Hondenoffer in Midden Celebes” (Pengurbanan anjing di Sulawesi Tengah) Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 71: 439-102. Penulis menguraikan arti pengurbanan ‘anjing sebagai adat kebinsnan penduduk Toraja baik di Sulawesi Tengah maupun di Sulawesi Selatan. Menurut penulis, pada pokoknya pengurbanan anjing mempunyai beberapa tujuan seperti mendamaikan (menetralkan atau mangemba- likan kepada keadaan semula) suatu keadaan/situasi, dengan memanggil atau meminta pertolongan kekuatan-kekuatan gaib. Anjing yang dikurbankan dianggap membawa pergi/mengenyahkan ssesuatu yang dianggap tidak baik. Jadi pengurbanan anjing tidak ditujukan terhadap dewa maupun roh nenek, moyang, tetapi terhadap kekuatan gaib/sakti yang ada dalam alam semesta. Pengurbanan anjing dilakukan pada waktu: a. Hamil kelahiran pada keluarga penduduk Toraja Barat, b. Perkawinan pada kelompok penduduk Toraja Barat, penduduk Toraja Poem’boto di bagian- timur dan kelompok Toraja Selatan. c. Sakit, pada kelompok penduduk Toraja Barat, penduduk Galumpang. d. Kematian, pada kelompok penduduk Toraja Barat dan Timur dan Selatan, e. Pembangunan rumah, pada kelompok penduduk Toraja Barat, penduduk Toraja Sulawesi Selatan, penduduk Toraja h. Gejala-gejala alam, banjir, badai, gempa, pada kelompok penduduk Toraja Timur. Pada penduduk Toraja Sulawesi Tengah anjing yang dibunuh sebagai pengurbanan dagingnya tak dimakan, mayat anjing biasanya dibuang ke kali atau dibuang begitu saja. Sedang pada beberapa kelompok penduduk Toraja Sulawesi Selatan aging itu dimakan.
1932a “Banggaische Studiën” (Studi Banggai) Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 72: 13-102.
1932b “Balantaksche Studiën” (Studi BalantakTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 72: 328-90. (Terjemahan Dalam Bahasa Inggris)
1932c “De Tol in den Indischen Archipel” (Gangsing di kepulauan IndonesiaTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 72: 415-595. Dalam artikel ini penulis menguraikan permainan gangsing di kepulauan Indonesia. Pada halaman 461-500 terdapat uraian tentang gangsing di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan yang hanya mengenal dua bentuk gangsing saja, yaitu gangsing tangan yang disebut Gahi (istilah bahasa Lore), dan gangsing tikam yang disebut Ganci (istilah daerah Poso). Gangsing tangan dimainkan (dilempar) dengan tangan, sedangkan gangsing tikam dimainkan bervariasi dari bentuk gemuk pendek hingga bentuk langsing. Di daerah Sulawesi Tengah bagian barat (termasuk Lore) yang terbanyak dimainkan ialah gangsing tangan (gahi) dan nama gangsingnya sering disebut dari jenis kayu yang dipakai sebagai bahan. Di daerah timurnya (daerah Poso) yang umum dimainkan ialah jenis gangsing tikam (ganci). Sedangkan di daerah Sulawesi Selatan kedua jenis gangsing tersebut selalu dimainkan. Menurut penulis, permainan gangsing selalu berhubungan dengan (pada masa lalu) pertanian, karena pada beberapa daerah seperti di Sulawesi Tengah bagian barat hanya boleh dimainkan setelah panen hingga masa mulai bertanam saja. Tapi di daerah Sigi merupakan kekecualian, karena di sana gangsing dimainkan sepanjang tahun. Lalu penulis juga memberikan beberapa dongeng tentang gangsing.
1932d “De Zwarte Kunst in den Banggai-Archipel en in Balantak” (Ilmu Hitam di Kepulauan Banggai dan Balantak)Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 72: 727-41 (Terjemahan Dalam Bahasa Inggris)
1932e De Bewoners van den Banggai-Archipel” (Penduduk Kepulauan Banggai) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap 1932: 66-88; 249- 271
1932f De Pilogot der Banggaiers en hun Priesters”  (Pilogot Banggai dan Dukunnya) Mensch en Maatschappij 8(2): 114-35.
1933a “Lapjesgeld op Celebes”  (Uang kain di CelebesTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 73: 172-83.
1933b “De Oorsprong van de Priestertaal in Poso” (Asal mula bahasa Dukun di PosoMededeelingen der Koninklijke Academie van Wetenschappen 76, B, No. 7: 197-214. Pada penduduk Toraja yang berbahasa Bare’e di Sulawesi Tengah ada segolongan kecil penduduk yang berfungsi sebagai dukun (priesteress) umumnya wanita. Mereka menggunakan suatu bahasa khusus dalam tugasnya berhubungan dengan dewa dan roh-roh. Bahasanya tidak dimengerti oleh orang biasa karena bentuk kata-katanya di potong-potong dan diputar balik sedemikian rupa sehingga bahasa ini hanya dipahami oleh golongan mereka sendiri dan para dewa-dewa serta para roh saja. Meskipun demikian bahasa ini dapat diajarkan kepada para wanita/gadis yang berminat untuk menjadi dukun. Menurut penulis bahasa khusus tersebut timbul sejak masuknya migrasi penduduk pendukung kebudayaan tembikar (disebut pottenbakers) ke Sulawesi Tengah yang dalam kebudayaannya terdapat pengaruh anasir kebuda yaan Jawa Hindu.
1933c “Van Leven en Sterven in Balantak (Oostarm van Celebes)” (Hidup dan Mati di Balantak (Lengan Timur Sulawesi) Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 73(1): 1-39. (Terjemahan dalam Bahasa Inggris)
1934a “De Rijstbouw in Balantak (Oostarm van Celebes)” (Budidaya Padi di Balantak (Lengan Timur Sulawesi)) Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 74: 124-39. (Terjemahan dalam Bahasa Inggris)
1934b “De Betekenis van den Zonnehoed bij de Oost-Toradjas (Arti dari tudung kepala pada orang Toraja TimurTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 74: 302-15. Tudung kepala adalah merupakan kelengkapan pakaian penduduk Toraja pada umumnya yang berfungsi penahan terik matahari maupun hujan. Pada orang Toraja Barat yakni orang Kaili dan Sigi di Sulawesi Tengah dan pada orang Mamasa dan Sa’dan di Sulawesi Selatan. Tudung merupakan kelengkapan pakaian sehari-hari. Sedangkan pada orang Toraja Timur di Sulawesi Tengah hanya dipakai oleh wanita atau pria yang bertugas di bidang keagamaan saja, yaitu dalam pesta/ upacara kematian, panen dan sebagainya. Menurut bentuknya N. Adriani membedakan atas toru ialah tudung yang puncaknya runcing dan tini yang puncaknya datar. Menurut penulis, tudung ini bukan kelengkapan asli orang Toraja karena beberapa penduduk Toraja lainnya seperti orang Bada’ tidak mengenal pemakaiannya.
1935a “De Stamfeest op Midden-Celebes” (Pesta suku di Sulawesi Tengah) Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 75: 550-604. Menurut penulis, penduduk Toraja baik di Sulawesi Selatan maupun di Sulawesi Tengah pada waktu-waktu tertentu mengadakan pesta atau upacara selamatan di mana seluruh warga desa ikut setta yaitu dalam rangka memintai kesejahteraan dan kekuatan hidup bagi seluruh desa termasuk warganya, ladang/sawahnya serta ternaknya, kepada dewa pencipta dan dewa-dewa lainnya. Di Sulawesi Selatan selamatan ini disebut Ma’bua sedang di daerah Sulawesi Tengah bagian barat disebut nokeso, dan di daerah lainnya punya nama sendiri pula yakni susa Taro. Penulis mendeskripsikan pesta selamatan tersebut dalam artikelnya.
1935b De Rijstgodin op Midden-Celebes, en de Maangodin” (Dewi Padi di Sulawesi Tengah, dan Dewi Bulan) Mensch & Maatschappij 11(2): 109-22.
1936a Zending en Volkskracht. (Misi dan Kekuatan Rakyat.) (‘s-Gravenhage: Boekhandel en Uitgeverij voor Inwendige en Uitwendige Zending.)
1936b “Communal Unity in Central Celebes.” (Kesatuan Komunal di Sulawesi Tengah) World Dominion XIV (3): 242-52.
1936c De Rijstgeest (Roh padi) (Amsterdam: A.B. Jonker). Artikel ini menguraikan asal mula padi dan roh (dewi) padi. Roh atau dewi padi ini tinggal di bulan dan turun dari langit karena diminta pertolongannya oleh manusia untuk menjaga keselamatan padi yang sedang mulai berbuah agar panen nantinya berhasil baik. Diuraikar pula beberapa mite dan legenda sehubungan dengan padi.
1937a Het Leven van de Vrouw in Midden-Celebes. (Kehidupan wanita di Sulawesi Tengah(Amsterdam: Bureel Wolanda India). Suatu uraian mengenai kehidupan kaum wanita di pedalaman Sulawesi Tengah yang meliputi pelbagai aspek kehidupan, antara lain kegiatan di bidang ekonomi peran dan kedudukannya dalam masyarakat, dalam religi, aktivitas sehari-hari termasuk pola pengasuhan anak, pakaian dan perhiasan yang dikenakan.
1937b “Het Leggen van een Knoop in Indonesie.” (Menaruh dan membuat simpulMededeelingen der Koninklijke Akademie van Wetenschappen, Afdeeling Letterkunde Deel 84, Serie B(4): 147-66. Penulis menjelaskan arti yang tersembunyi pada simpul tali dalam hubungan kepercayaan penduduk di Eropa dan di kepulauan Indone- sia. Di Indonesia menurut penulis, simpul dianggap memiliki kekuatan magis yang menjauhkan hal-hal yang berbahaya atau hal yang kurang baik. Arti yang bersifat gaib dianggap mempunyai kekuatan mengikat kekuatan sakti daripada sesuatu benda agar kekuatan tersebut tidak keluar dan menimbulkan bahaya. Contoh-contoh pada orang Toraja yang dikemukakan penulis ialah mengikat pada tuaian pertama menjadi satu ikatan besar yakni yang disebut ibu padi. Ini dapat dianggap bahwa roh-roh padi menjadi terikat dan tidak dapat keluar/lari hilang keluar. Kemudian untuk meramal digunakan sejenis alang-alang yang diikat sebagai suatu simpul dan sebagainya.
1937c De krokodil in het leven van de Posoërs. (Oegstgeest: Zendingsbureau.) (Terjemahan dalam Bahasa Inggris)
1938 De West-Toradjas op Midden-Celebes 4 vols. (Penduduk Toraja Barat di Sulawesi Tengah (Verhandelingen der Koninklijke Akademie van Wetenschappen, Afd. Letterkunde, Nieuwe Reeks, Deel 40; Noord Hollandsche Uitgevers Maatschappij), terdiri dari 4 jilid dan dilengkapi peta-peta. Keempat jilid buku tersebut imerupakan monografi lengkap dari penduduk yang disebut Toraja Barat di Sulawesi Tengah bagian barat, yang wilayahnya kini meliputi kabupaten Palu dan Donggala. Jilid pertama menguraikan geografi, benda-benda pre-histori, sejarah penduduk dan lokasinya, pelapisan sosial. Berjumlah halaman 542. Jilid kedua menguraikan bentuk-bentuk perumahan, institusi perang, kepercayaan, kosmologi dan mitologi, mengenai shananisme, berjumlah 542 halaman. Jilid ketiga yang terdiri dari 562 halaman, meng- uraikan sejarah masuknya Islam ke daerah ini, adat kebiasaan dan upacara di sekitar life cycle. Jilid keempat yang berjumlah 493 halaman berisi uraian mengenai mata pencaharian, pakaian dan perhiasan makanan dan kerajinan tangan.

Deel 1,

Deel 2, Pada halaman 2-54 jilid II terdapat uraian mengenai pola menetap dan bentuk rumah penduduk Toraja Barat di Sulawesi Tengah, berikut upacara atau pesta yang berhubungan dengan pembangunan rumah. Juga dijelaskan tentang balai sakral. Menurut penulis, ada 3 tipe rumah tinggal, yakni: 1. Tipe A, yaitu tipe rumah orang Napu, Besoa dan Koro. 2. Tipe B, ialah tipe rumah orang Kulawi. 3. Sedang Tipe C ialah rumah orang Kaili-Sigi yang banyak mendapat pengaruh tipe rumah orang Bugis. Pada halaman 224-244 jilid II terdapat uraian mengenai religi dan ke percayaan penduduk Toraja Barat (Sulawesi Tengah bagian Barat). Hal-hal yang dibicarakan diantaranya adalah konsep mengenai jiwa, kepercayaan terhadap tanda-tanda atau alamat-alamat seperti mimpi, meramal dengan benda-benda, dan kepercayaan akan adanya roh-roh jahat dan sebagainya. Disinggung pula mengenai pengurbanan hewan anjing yang dilakukan pada beberapa peristiwa tertentu seperti halnya pada waktu ada orang terkena penyakit dan sebagainya. Pada halaman 264-265 terdapat uraian mengenai pantangan-pantangan sehubungan dengan aktivitas memasak nasi dan pada waktu mengkonsumsinya. Pada jilid II halaman 496-630 terdapat uraian mengenai shaman/dukun dikenal dalam masyarakat Toraja Sulawesi Tengah sebagai orang yang memiliki keahlian untuk berhubungan dengan dunia gaib dalam rangka pengobatan orang sakit maupun dalam rangka upacara tertentu.

Deel 3, Pada jilid III halaman 27-156 terdapat keterangan mengenai masalah pelamaran, pertunangan, perkawinan di Sulawesi Tengah bagian barat khususnya di daerah-daerah Napu, Besoa. Bada. Rampi. Koro. Kulawi. Kaili dan Sigi. Tentang hamil dan kelahiran terdapat pada halaman 157-254, mengenai kematian pada halaman 339, mengenai pengasuhan anak dan adopsi (pengangkatan anak), inisiasi yang meliputi incisi dan multilasi gigi terdapat pada halaman 255-388. Dan mengenai adat kebiasaan melukis maka pada para wanita dan laki-laki diuraikan penulis pada halaman 259-261.

Deel 4: Pada jilid IV halaman 405 penulis menguraikan seni kerajinan penduduk Toraja Sulawesi Tengah bagian Barat. Diantaranya ialah seni pembuatan pakaian kulit kayu (fuya), seni pembuatan tembikar dan pembuatan benda-benda logam, besi, emas dan tembaga.

1938b “Het Schommelin in de Indische Archipelago” (Mengayun di Kepulauan Hindia-BelandaBijdragen KITLV 97: 363-424.
1938c Luis en Spel in ons Indië (Santai dan bermain di Indonesia) (Amsterdam: Bureel Wolanda India). Menurut penulis, permainan berayun mempunyai dua aspek: 1. Aspek rituil dan 2. Aspek hiburan/bermain. Di daerah Sulawesi Tengah pada penduduk Toraja Barat maupun Toraja Timur berayun merupakan hiburan/permainan semata-mata yang dapat dilakukan sepanjang tahun. Sedangkan di Sulawesi Selatan, misalnya di daerah Pada Seko berayun dilakukan dalam rangka upacara tertentu yang dihubungkan dengan kepercayaan bahwa ayunan adalah salah satu media untuk berhubungan dengan dewa/roh di langit.
1939 “De geboorte van de nieuwemaan volgens verhalen der Toradjas van Celebes” (Kelahiran bulan baru menurut dongeng-dongeng Toraja di SulawesiCultureel Indië, I: 231-245. Artikel ini berisi uraian mengenai dongeng-dongeng pada orang Toraja Sulawesi Tengah yang berhubungan dengan terbitnya bulan baru. Diantaranya ialah mengenai dongeng bulan yang lahir dari mata kaki manusia, yakni dongeng Tendo dan putri Madiara, yang intinya adalah seorang yang sakit lepra dikucilkan dari masyarakat dan tinggal di hutan. Tiap hari ia mandi di sungai untuk membersihkan lukanya. Di hulu sungai tinggal seorang raja yang mempunyai seorang putri yang tiap hari mandi di kali. Suatu ketika sehelai rambutnya lepas hanyut terbawa arus dan melingkari mata kaki Tendo yang kebetulan sedang mandi, Selang beberapa lama mata kaki Tendo bengkak dan ketika dipotong keluar seorang bayi (motif Z 216, Supernatural origin of hero magic conception). Raja yang tinggal di hulu mengadakan pesta untuk rakyatnya sementara itu putrinya yang sejak beberapa wak tu payudaranya penuh air susu biarpun ia tidak bersalin. Tendo datang ke pesta bersama anaknya yang menangis terus. Tetapi setelah dipangku dan disusui putri raja tersebut ia pun terus diam. Tendo kemudian dikawinkan dengan sang putri, tetapi sebelumnya ia pulang dulu akan mandi. Sementara mandi ia membuka selubung lepra dan berubahlah kembali ka asal yakni putra seorang dewa yang tampan. (motif K 235.7.11, Transformation man to leper. Menurut’ penulis ada beberapa versi mengenai hamilnya mata kaki yaitu antaranya karena kena urine gadis, dan yang lainnya ialah karena tersentuh kain kotoran yang hanyut.
1940 “Rechts en Links bij de Bewoners van Midden-Celebes” (Kanan dan Kiri dengan Penduduk Sulawesi Tengah) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 339-55.
1940 Volksverhalan van de Oost-toradjas” (Cerita Dongeng Toraja TimurTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 80 (1940): 221-66
1940 De Buffel, Die een Meisje ter wereld bracht, een verhaal van de Oost-Toradja” (Kerbau Yang Membawa Seorang Gadis ke Dunia, Kisah Toraja TimurMensch en Maatschappij XVI: 255-70.
1942 De bewoners van het stroomgebied van de Karama in Midden CelebesTijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap, 59: 518-53, 702-41, 879-914.
1950 De Bare’e Sprekende Toradjas van Midden Celebes (de Oost Toradjas) 3 vols. (Toraja Yang Berbicara Bare’e di Sulawesi Tengah (Toraja Timur) 3 jilid) (Verhandelingen der Koninklijke Akademie van Wetenschappen, Afd. Letterkunde, Nieuwe Reeks, Deel 54; Noord Hollandsche Uitgevers Maatschappij).

Kruyt, A.C. dan J.

1920

Een Ries door het Westelijk deel van Midden Celebes” (Perjalanan Melalui Bagian Barat Sulawesi Tengah) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 64: 3-17, 97-112, 193-216.

1921

“Reis naar het landschap Napoe in de onderafdeling Posso” Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap, 38: 400-14.

1922

Een reis onder de Toradjas van Sa’dan en Mamasa (Celebes)” (Perjalanan ke daerah Toraja Sa’dan dan Mamasa) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap, 39: 678-716.

Artikel ini merupakan catatan perjalanan ke daerah Toraja Sa’dan dan Mamasa di Sulawesi Selatan. Pembicaraan meliputi: sejarah singkat kerajaan Luwu, asal mula pakaian kulit kayu (fuya), adat tatuage, legenda asal mula para bangsawan Mamasa dan Sa’dan, dengan tokohnya Pongka Padang (Mamasa) dan Tamborolangi (Sa’dan). Menurut legenda orang Toraja Mamasa itu pada hakikatnya adalah orang Toraja Sa’dan yang memisahkan diri pergi ke Mamasa. Dalam artikel terdapat uraian mengenai legenda nenek moyang orang Toraja Mamasa yang bernama Pongka Padang (motif A. 1611, Origin of particular tribes). Dalam artikel ini, yakni pada halaman 113-137 terdapat uraian mengenai berbagai adat kebiasaan penduduk Toraja di Sulawesi Selatan (Sa’dan, Massuppu dan Mamasa) dalam hal perkawinan, hamil dan kelahiran, adat tehnonimi (menyebut nama orang tua dengan sebutan bapak/ibu si x), adat sunat (incision yakni menoreh secara horisontal dengan benda tajam bagian dorsal prepuce alat seks laki-laki), dan adat sekitar kematian. Dalam artikel tersebut terdapat keterangan mengenai jenis makanan yang khusus dimakan dan yang pantang dimakan oleh golongan bangsawan (puang) Toraja Sulawesi Selatan di daerah Sa’dan dan Mamasa. Jenis makanan yang terlarang bagi golongan bangsawan tersebut ialah nasi merah, jagung yang bijinya kuning atau kemerahan, daging anjing, kerbau putih, ayam putih, babi putih, ikan belut (paling), bagian kepala dan dada babi, dan punti rame yakni sejenis pisang. Orang Toraja pada umumnya menurut penulis, tidak makan daging kera, ular, tikus maupun kelelawar. Jenis burung yang dimakan ialah bebek liar dan burung burinti.

Kruyt, J.

1919 De Telwoorden in het Morisch” (Angka dalam Bahasa Mori) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 63:328-46.
1920 “Het Ma’boea en de Tatouage in Seko” (Ma’bua dan rajam tubuh di Seko (Sulawesi Tengah)) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 76(3/4): 235-57. Tulisan ini ‘menguraikan mengenai Pesta Bua’ yakni pesta selamatan seluruh warga desa yang diadakan 2-3 tahun sekali dalam hal peristiwa-peristiwa seperti panen berturut-turut gagal, ternak banyak mati, warga desa banyak sakit dan mati. Pesta Bua’ dilakukan dalam dua tahap; tahap pertama adalah sebelum mengerjakan ladang/sawah sedangkan tahap kedua, tiga tahun setelah panen pertama. Dalam hubungan pesta ini di masa lalu diadakan pengurbanan manusia yakni seorang budak yang dibeli dari desa tetangga dan dipersiapkan sejak Bua’ tahap pertania, dengan merawatnya secara baik. Selain itu juga disediakan sejumlah gadis pilihan yang disebut haliang yang dipersiapkan sejak tahap pertama yakni harus melakukan aturan-aturan tertentu dan menjalankan pantangan tertentu. Pada Bua’ tahap ikedua kurban dibunuh, diambil kepalanya. Sedang gadis-gadis haliang harus menjalani rajam kulit (tatuage).
1921 “De Boea’ en eenige andere feesten der Toradja’s van Rantepao en Makale” (Pesta Bua’ dan pesta lainnya pada orang Toraja Rantepao dan MakaleTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 60: 45-77, 161-186. Artikel ini berupa uraian mengenai upacara/pesta Bua’ dan upacara serta pesta lainnya di daerah Makale-Rantepao Sulawesi Selatan. Pesta Bua’ diadakart dalam rangka memperkuat semangat dan kekuatan hidup bagi kesejalhteraan penduduk, ternak dan tanaman (sawah dan ladang). Penulis mengklasifikasikan berbagai upacara/pesta di daerah ini ke dalam 4 jenis yakni: 1. Upacara di mana Tetumbang mempunyai peranan langsung atau tak langsung. (Totumbang ialah wanita istri orang terkemuka dan para gadis yang bertugas meminta berkat para dewa atas maksud dari pesta/upacara yang diadakan tersebut). Contoh upacara/pesta jenis ini adalah pesta Bua’ 2. Jenis upacara/ pesta di mana Totumbang tidak ‘mempunyai peranap, contohnya ialah upacara/pesta’ Merauk. 3. Jenis upacara/pesta yang bertujuan khusus memperkuat kekuatan atau semangat hidup manusia saja, contohnya ialah pesta/upacara Maro. 4. Jenis pesta yang mendahului pesta Bua”, yakni yang diadakan pada waktu padi masih di sawah dan setelah menuai padi.
1922 “Het Weven der Toradja’s” (Tenun Orang Toraja) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 78(3/4): 1-23. Artikel ini tentang kerajinan tenun pada orang Toraja di Sulawesi Sela- tan. Dalam uraiannya ini penulis menerangkan berbagai kepercayaan dan pantangan yang harus diperhatikan di sekitar persiapan dan pengerjaan tenun pada orang Toraja Sa’dan, Mamasa dan Rongkong yang harus diperhatikan baik oleh para wanita bersangkutan yang mengerjakan tenun maupun oleh suami mereka (bila telah kawin). Misalnya, dalam proses merentang benang, yang mengerjakannya dilarang memakan beberapa jenis sayuran atau tumbuhan tertentu dan juga bubur. Bila ada kematian pekerjaan harus dihentikan segera karena akan berakibat sakit mata bila diteruskan. Pada proses mewarnai tidak boleh dilakukan di antara masa padi mulai berisi sampai panen, karena hal ini akan mengakibatkan panen jadi gagal. Wanita hamil atau sedang haid dilarang mengerjakan tenun ini bahkan mendekat saja tidak diperbolehkan. Dan dilarang sekali mengerjakan tenun jika para suami sedang pergi beperang. Juga berbahaya sekali jika seorang laki-laki tersentuh atau terpijak bagian alat tenun, karena ia nanti bisa digigit ular besar. Jika laki-laki dipukul dengan alat tenun akan berubahlah kelaminnya menjadi kelamin perempuan. Dan berbagai contoh lainnya lagi diberikan penulis.
1924 “De Moriërs van Tinompo (oostelijk Midden-Celebes)” (Suku Morian Tinompo (Sulawesi Tengah bagian timur)) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 80(1): 33-213.
1933 “Een Reis door To Wana” (Perjalanan Menuju Wana) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 77: 19-48.
1970 Het Zendingsveld Poso: Geschiedenis van Een Konfrontatie. (Daerah kerja Zending Poso: Sejarah Sebuah Konfrontasi) (Kampen: Uitgeversmij J.H. Kok N.V.) Buku ini berisi uraian tentang pekerjaan Zending di daerah Poso Sulawesi Tengah Bagian pengantar menguraikan lapisan sosial penduduk Toraja Poso, adat-istiadat perkawinan dan kematian, sistem kepercayaan mite-mite penciptaan, kedudukan wanita, kepercayaan terhadap roh-roh dan kekuatan sakti lainnya. Sedangkan bagian buku lainnya khusus mengenai pekerjaan Zending.

Loosdrecht, A.A. van de

1921 Onder de Toradja’s van Rante Pao” (Di antara penduduk Toraja Rante Pao) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 65: 131-53

Lucardie, W.J

1912 De Expeditie naar Zuid-Celebes Juli 1905” (Ekspedisi ke Sulawesi Selatan Juli 1905Oost-Indische Krijsgeschiedenis 8 (Breda: Koninklijke Militaire Academie)

Maengkom, F.R.

1907 “Dagboek van een tocht uit Todjo naar Mori (Midden-Celebes), en terug naar het Poso-Meer”  (Buku Hadrian perjalanan dari Tojo ke Mori (Sulawesi Tengah), dan kembali ke Danau PosoTijdschrift KNAG tweede series 24: 855-71.

Mazee, G. W.

1911 “Over Heksen-moord en de Berechting Daarvan” (Tentang Pembunuhan Penyihir dan PengadilanyaTijdschrift van het Binnenlands Bestuur 41(6): 396-402.

Mandhar

1909 Mededeelingen Betreffende Eenige Mandharsche Landschappen” (Pemberitahuan Tentang Beberapa Lanskap MandarBijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 62(3/4): 649-684.

Meulin, P. J. van den

1923a “Het Volksonderwijs in Beheer bij de Zending, en de te Dien Aanzien Bestaande Regeerings-Voorschriften.” (Pendidikan Umum dalam Administrasi Misi, dan Peraturan Pemerintah Yang Ada Tentang Ini) Koloniaal Tijdschrift 12: 243-67.
1923b “Antwoord op het Artikel van Dr. Alb. C. Kruyt.” (Jawaban untuk Artikel oleh Dr. Alb. C. Kruyt.) Koloniaal Tijdschrift 12: 434-40.

Michielsen, A.W.A.

1915 De Expeditie naar Zuid-Celebes in 1905-1906: Tweede Gedeelte: De Actie in Loewoe” (Ekspedisi ke Sulawesi Selatan 1905-1906: Bagian Kedua: Aksi di LuwuIndisch Militair Tijdschrift Extra Bijlage No. 36: 1-240.

Musschenbroek, S.C.J.W. van

1880 Toelichtingen behoorende bij de Kaart van de Bocht van Tomini of Gorontalo en aangrenzende landen” (Penjelasan terkait Peta Teluk Tomini atau Gorontalo dan negara tetangga) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap 4: 93-110.

Nobele, E.A.J.

1926 “Memorie van overgave betreffende de onderafdeeling Makale” (Memorie serah terima onderafdeeling Makale) Tijdschrift voor Indisch Taal-, Land-en Volkenkunde, 66: 1-143. Memori serah terima dari Onderafdeeling Makale yang di dalamnya berisi catatan etnografi penduduk Toraja Makale di Sulawesi Selatan Yakni mengenai sifat-sifat penduduk, pakaian, pelapisan sosial, adat-istiadat perkawinan kelahiran, potong’gigi, incision, upacara kematian, organisasi sosial, sistem kepercayaan, mata pencaharian dan hukum.

Noort, G.

2006 De weg van magie tot geloof: Leven en werk van Albert C. Kruyt (1869-1949), zendeling-leraar in Midden-Celebes, Indonesië (Jalan dari sihir menuju iman : kehidupan dan karya Albert C. Kruyt (1869-1949), guru misi di Sulawesi Tengah, Indonesia) (PhD dissertatie, Utrecht University).

Plaisier, B.

1993 Over Bruggen En Grenzen: De Communicatie Van Het Evangelie in Het Torajagebied (1913-1942).(Jembatan Dan Batas: Komunikasi Injil Di Daerah Toraja (1913-1942))  (Zoetermeer: Boekencentrum).

Pol, H.

1938 Geschiedenis van Loewoe‘” (Sejarah Luwu’Om te Gedenken: vijf-en-twintig jaar zendingsarbeid van den G.Z.B. onder de Sa’dan Toradja’s, Zuid-Midden-Celebes (Gereformeerde Zendingsbond).

Rappoport, Dana

1999 Chanter sans être ensemble: Des musiques juxtaposées pour un public invisible” (Bernyanyi tanpa bersama: musik yang disandingkan untuk audiens yang tidak terlihatL’Homme 152: 143-62. (Dalam Bahasa Perancis).
2001 Musiques Rituelles Des Toraja Sa’Dan: Musiques Du Couchant, Musiques Timur: Célèbes-Sud, Indonésie (Musik Ritual Toraja Sa’dan: Musik Dari Matahari Terbenam, Musik Dari Levant: Sulawesi Selatan, Indonesia.) (Villeneuve-d’Ascq: Presses universitaires du septentrion).

Riedel, J. G. F.

1872 De Oelalone ni Iele Aloe. Eene Tominische Vertelling, Gevolgd door eenige Volks-liederen in de Oorspronkelijke Taal met Nederlandsche Vertaling en Aantekeningen” (Ulalone ni Iele Alu. Kisah Tomini, Diikuti oleh beberapa Lagu Rakyat dalam Bahasa Asli dengan Terjemahan dan Catatan Belanda) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 18(3/6): 166-184
1886 “De Topantunuasu of Oorspronkelijke Volksstammen van Centraal Selebes.” (Topantunuasu atau penduduk asli di Sulawesi Tengah) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 35: 77-95. Penulis menguraikan penduduk Toraja yang berlokasi di sekitar danau Poso Sulawesi Tengah, yang disebut olehnya To Pantunuasu (pemakan anjing). Penulis mengoper sebutan ini dari orang Kaili di Sulawesi Tengah bagian barat. Hal-hal yang diuraikannya meliputi ciri-ciri fisik, mata pencaharian pola menetap, struktur rumah organisasi sosial dengan pelapisan sosialnya, sistem kepercayaan, adat-istiadat, life cycle beserta upacara-upacara yang berhubungan dengannya, pakaian dan peralatan musik

Rijn, A.P. van

1902 Tocht naar de Boven-Sadang” (Perjalanan ke Sa’dan atas) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap series 2(19): 328-372.

Salombe, Cornelius

1975 Une version orale du mythe de Sawérigading recueillie à Kandora, Méngkéndek, Pays Toraja” (Versi lisan dari mitos Sawérigading yang dikumpulkan di Kandora, Méngkéndek, Tana TorajaArchipel 10: 269-289, (dalam Bahasa Perancis)

Sarasin, Paul & Frits

1905 Reisen in Celebes ausgefuhrt in den Jahren 1893-1896 und 1902-1903. (Perjalanan di Sulawesi terjadi pada tahun 1893-1896 dan 1902-1903) 2 vols. (Wiesbaden: Kreidel). (Dalam Bahasa Jermin)

Schoor-Lambregts, A. J. van de

1992 Het Heerlijke en Schoone Werk der Zending”; Alb. C. Kruyt over Celebes.” (Karya Misi yang Mulia dan Indah”; Alb. C. Kruyt di CelebesIndische Letteren 7 (3): 98-108.

Schuyt, P.

1911 Van dag tot dag op een reis naar de landschappen Napoe, Besoa en BadaMededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 55: 1-26.
1913 Langs Oude en Nieuwe Wegen” (Sepanjang Jalan Lama dan Baru) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 57: 341-70.
1915 Het Tegenwoordige landschap Todjo” (Lanskap Saat Ini Tojo) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 59: 262-92.

Schuyt-Mansvelt, A.M.

1919 Padjangko: Een Toradja-”Boefje”. (Pajangko: Seorang Toraja- “penipu”) (‘S-Gravenhage: Boekhandel van den Zendingsstudie Raad).

Tandilangi, Puang Paliwan

1975 Les tongkonan, maisons d’origine des Toraja” (Tongkonan, rumah asli orang TorajaArchipel 10: 93-105 (dalam Bahasa Perancis).

Tichelman, G.L

1940 “Het snel motief op Toradjas Fuyas” (Motif pengayauan pada kain fuya TorajaCultureel Indië, No. 2, (1940), hlm. 113-118. Penduduk Toraja Sulawesi Tengah memakai ikat kepala sebagai pelengkap pakaiannya. Ikat kepala yang dikenakan mempunyai berbagai warna maupun motif yang sesuai dengan status sosial pemakaiannya. Misalnya ikat kepala berwarna merah polos tanpa hiasan apapun dikenakan oleh pria yang baru pertama kali turut dalam perang/pengayauan. Sedang yang telah berpengalaman lima kali berhak menaruh motif kepala kerbau pada ikat kepalanya. Selain warna merah untuk ikat kepala umum dipakai juga warna-warna lain seperti warna hitam, biru, merah muda, hijau, jingga dan ungu.

Van der Veen, H.

1924-5 Sa’dan-Toradja Volksverhalen (Cerita-Cerita Rakyat Toraja Sa’dan) Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen 65(2): 1-76. Artikel ini berupa kumpulan dongeng dari  penduduk Toraja Sa’dan di Sulawesi Selatan yang berjumlah 6 buah. Antara lain dongeng Saredadi ialah anak yang lahir cacat (motif R 131.12, Fairy rescue abandoned child), dongeng La Dana (motif J 1282, Trickster choose his gift), dan dongeng Tulangdidi (motif E. 79.1.1, Rescucitation by bird flying over dead)
1924 “De Priesters en Priesteressen bij de Sa’dan-Toraja’s” Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen 67: 275-401.
1929 “Nota Betreffende de grenzen van de Sa’dansche taalgroep en het haar aanverwante taalgebied” (Nota mengenai batas-batas daerah kelompok bahasa Sa’dan dengan bahasa-bahasa yang sekerabatTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 69(1/2): 58-97. Penulis menguraikan kelompok bahasa Sa’dan di Sulawesi Selatan. Yang termasuk ke dalam kelompok bahasa tersebut ialah penduduk Toraja Rongkong, bahasa penduduk sepanjang aliran sungai Masuppa dan Mamasa, bahasa penduduk daerah hulu sungai Karama, dan bahasa penduduk Luwu-Massenrempulu yang merupakan peralihan atau batas antara bahasa Sa’dan dan bahasa Bugis.
1930 “Een wichel litanie der Sa’dan Toradjas” (Mantra-mantra untuk meramal pada orang Toraja Sa’dan)  (Weltevredon, G. Kolff & Co., 1930), 16 hlm. Overdrukt uit Feestbundel, Koninklijk Bataviaasch Genootschaap 150 bestaan deel 2. Ma’biangi artinya meramal dengan menggunakan sejenis rumput (latinnya ialah andropogon halepensis stapf) dengan disertai mantra-mantra merupakan salah bentuk kepercayaan penduduk Toraja Sa’dan. Meramal dilakukan dengan pertolongan seorang dukun Tominaa dengan maksud mendapat tanda atau jawaban dari dunia atas (langit) terhadap alamat atau pertanda atau mimpi daripada seseorang individu. Atau untuk mendapat petunjuk jika seseorang individu terus-menerus beroleh musibah seperti ayam sabungannya kalah terus. anaknya terus-menerus sakit atau meninggal, atau mendengar sejenis bunyi burung hantu dan sebagainya. Menurut penulis. legenda penduduk menceritakan bahwa pada mulanya hubungan manusia dengan penghuni langit melalui sebuah tangga, tetapi karena kesalahan seorang manusia yang mencuri api, maka oleh dewa-dewa tangga tersebut diputuskan. Lalu oleh dewa tertinggi Puang Matua beberapa jenis ilalang dijatuhkan ke bumi yang sejak itu digunakan manusia untuk berhubungan dengan dunia atas sebagai pengganti tangga tadi. Mantra-mantra yang diucapkan Tominaa mengiringi maobiangi merupakan bahasa khusus para Tominaa akan tetapi masih bisa dimengerti orang biasa.
1940 Tae’ (Zuid-Toradjasch)-Nederlandsch woordenboek met register Nederlandsch-Tae’ (Kamus Tae’ (Sa’dan)- Belanda Dengan Daftar kata Belanda-Tae’) (Amsterdam: Martinus Nijhof)
1950 “De samenspraak der beide priesters, de woordvoerders van bruid en bruidegom bij de huwelijksplechtigheid der Sa’dan-Toradja’s’” (Dialog dua pendeta, juru bicara pengantin pada upacara pernikahan Sa’dan-Toraja’) in: Philippus Samuel van Ronkel (ed.), Bingkisan Budi; Een bundel opstellen aan dr. Philippus Samuel van Ronkel door vrienden en leerlingen aangeboden op zijn 80e verjaardag 1 aug. 1950, (Leiden: Sijthoff), pp. 291-306.
1976 OSSORAN TEMPON DAOMAI LANGI’: (naosso’ Ne’ Mani’, to minaa daomai Sereale) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 132(4): 418-438.
1979 Overleveringen en Zangen der Zuid-Toradja’s (Tradisi dan Lagu Toraja SelatanVerhandelingen KITLV 85 (Martinus Nijhoff, Den Haag)

Weber, L.

1914 De Grensstreken tusschen Loewoe en Mamoedjoe in Centraal-Celebes” (Daerah Perbatasan antara Luwu dan Mamuju di Sulawesi Tengah) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap 31:475-500

Weber, Robert

2006 Kulturlandschaftswandel in Zentralsulawesi Historisch-geographische Analyse einer indonesischen Bergregenwaldregion (Perubahan lanskap budaya di Sulawesi Tengah Analisis historis-geografis kawasan hutan hujan pegunungan Indonesia) (Göttingen: Universitätsverlag Göttingen) (Dalam Bahasa Jermin)

Wesseldijk, J. W.

1923 De telwoorden in het Napoesch, met medewerking van Dr. N. Adriani.” Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap 67:59–64, 141–164. (Terjemahan dalam Bahasa Inggris)

Witkamp, H.

1940 Langs de Lariang-rivier (West Celebes)” (Sepanjang Sungai Lariang (Sulawesi Barat)) Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap series 2, 57: 581-600

Woensdregt, Jac.

1925 Mythen en Sagen der Berg-Toradja’s van Midden-Selebes (Mite dan Sage dari penduduk Toraja pegunungan di Sulawesi Tengah(Verhandelingen van het Koninklijk Bataviaasch Genootschaap van Kunsten en Wetenschappen, 1925, Vol. 65(3)) Jilid 1, Jilid 2. Kumpulan mite dan legenda yang dikerjakan penulis, tentang penduduk Toraja pegunungan Sulawesi Tengah, meliputi cerita penciptaan alam semesta (motif A.649, Creation of universe), mengenai penciptaan manusia (motif A.1200, Creation of man).” tentang asal mula kematian manusia (motif A.13555, Origin of death), tentang bagaimana manusia memperoleh api (motif A.1415; Theft of fire) tentang manusia yang kawin dengan putri dari kayangan (motif B. 652.1, Marriage to Swan-maiden) dan sebagainya.
1928 De Landbouw bij de To Bada’ in Midden Celebes” (Pertanian To Bada’ di Sulawesi TengahTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 67: 125-255.
1928b Het Zegenen der Buffels in Bada” (Upacara merestui kerbau di Bada’) Mededeelingen van Wege het Nederlands Zendelingen Genootschap 72: 227-49. Artikel ini betisi uraian mengenai upacara merestui atau memberkahi ternak kerbau yang dilakukan sebelum mulai menggarap sawah dengan maksud agar kerbau-kerbau tersebut dijauhkan ‘dari gangguan-gangguan yang buruk (tidak sakit dan sebagainya) sekaligus juga: mengharapkan kesuburan ternak agar dapat berkembang biak. Penulis juga menguraikan pandangan Kristen terhadap upacara dan dengan hidup yang melatarbelakanginya.
1929 Verloving en Huwelijk bij de To Bada’ in Midden Celebes” (Pertunangan dan Perkawinan pada orang Bada’ di Sulawesi Tengah) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 85(2/3): 245-290. Artikel ini menguraikan mengenai proses hubungan pemuda dan pemudi Bada’ di’ Sulawesi Tengah, sejak perkenalan, pertunangan hingga menginjak perkawinan. Selain ini diuraikan pula mengenai perihal kehidupan seks di antara pemuda-pemudi Bada’, masalah perceraian dan persepsi masyarakat sehubungan dengan hal tersebut. Di kalangan muda-mudi subsuku Bada’ di daerah pegunungan Sulawesi Tengah berlaku kebiasaan saling berkiriman benda-benda tertentu pada masa-masa berpacaran, yaitu berupa sirih, pinang atau biji jagung, sepotong tebu atau kelapa, yang sebelumnya telah diberi tanda tanda tertentu dan bermakna tertentu pula. Makna-makna tersebut hanya diketahui oleh muda-mudi bersangkutan. Mereka umumnya mengerti bagaimana memberi tanda dengan makna tertentu. Misalnya mengirim buah pinang yang belum dikupas berarti hati si dara atau si pemuda masih hitam atau gelap, maksudnya belum sadar atau belum membalas cinta pihak lainnya. Untuk memutuskan hubungan lainnya, si dara mengirim batang tebu diberi cat merah, atau 4 lembar daun sirih yang diikat satu dengan lainnya dengan bagian daun yang kasar menghadap keluar.
1929 Zwangerschap en geboorte bij de To Bada’ in Midden-Celebes” (Kehamilan dan kelahiran di kalangan penduduk Bada’ di Sulawesi Tengah), Koliniaal Tijdschrift 18: 352-366. Pada masa hamil para calon ibu maupun suami dan keluarga serumah wajib menuruti beberapa pantangan demi keselamatan si anak dan’si ibu. Kelahiran seorang anak yang biasanya dibantu ‘oleh seorang wanita disebut To Mpopoana’ atau’ oleh Topangisa (orang perempuan yang tahu hal-hal luar biasa, karena dukun atau bidan khusus tidak ada), tali pusarnya dipotong dengan kayu tajam, lukanya dirapatkan dengan cara menjepitnya dengan jari sepanjang 1,5 ruas jari. Setelah itu si bayi dimandikan dengan air dingin yang sebelumnya telah diberi ramuan daun-daunan tertentu. Lalu kepala dan perutnya dibarut derigan daun kudu. Ari-ari (placenta) yang dimasukkan dalam belanga tanah biasanya digantung di pohon atau dapat juga dikubur di bawah tangga rumah atau’ di jalanan. Nama anak biasanya diberikan oleh neneknya, dan biasanya nama-nama tersebut menunjuk, kepada keadaan atau pengalaman yang dialami orang tuanya semasa si anak tadi dikandung, atau nama-nama binatang dan tumbuh-tumbuhan. Misalnya si ibu waktu mengandung digigit serangga yang disebut kaki seribu, maka si anak diberi nama si alipa artinya kaki seribu. Pada kelahiran seorang anak tidak diadakan upacara khusus. Perawatan terhadap ibu-ibu yang habis bersalin berupa pemberian makanan dan minuman tertentu sebagai pengobatan, perut dibarut dengan ramuan daun yang berkhasiat panas. Kemudian si ibu tadi menjalani pemanasan tubuh selama beberapa hari yang disebut motapa. Untuk anak pertama sela: ma 7 hari dan bagi anak berikutnya hanya 4 hari saja. Setelah motapa si ibu telah sembuh dan harus mandi di kali/ di air deras mengalir dan sebelumnya memberi persembahan kepada roh air, ini disebut moaho.
1929b Rampi’-sche Verhalen” (Dongeng-dongeng dari RampiTijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 69: 255-319. Artikel ini berisi sejumlah dongeng dari penduduk Toraja Rampi di daerah pegunungan Sulawesi Tengah, berjumlah 7 buah. Diantaranya terdapat dongeng mengenai Mentoro, yakni perempuan yang dikawini oleh ular lalu diselamatkan oleh anaknya (motif R111.1.5, Rescue of from snake husband).
1930 Het kind bij de To Bada in Midden Selebes” (Anak pada orang To Bada’) Koloniaal Tijdschrift 19: 321-35. Artikel ini menguraikan pengasuhan anak pada orang Bada’ di Sula- wesi Tengah dan adat kebiasaan yang berlaku dari masa itu menjelang remaja. Anak-anak Bada’ umumnya disusui ibunya hingga umur 4 sampai 6 tahun. Anak-anak perempuan diberi pakaian setelah umur kurang lebih 9 tahun, telinganya dilubangi maksudnya supaya jangan kelihatan seperti kera kecil menurut keterangan penduduk. Umur anak-anak perempuan sering dihitung atau diperkirakan orang lain dari bentuk-bentuk payudaranya. Di daerah Bada’ ada, nama-nama khusus bagi bentuk-bentuk payudara’ gadis kecil sampai nenek-nehek. Setelah berumui antara 10-12 tahun, setelah tumbuh gigi permanen, anak perempuan harus menjalani mogese, yakni mencongkel gigi tating depan dilakukan oleh seorang ahli, diikuti suatu pesta kecil. Kebiasaan, mogese ini ada hubungannya dengan suatu legenda yang hidup di kalangan penduduk Bada’, yaitu mengenai seorang wanita pada masa dulu yang menggigit alat vital suaminya. Bagi anak laki-laki yang berumur 7 tahun diberi cawat setelah lebih dulu menjalani sunat/incision). Incision dilakukan dengan pesta besar, misalnya pesta pembangunan rumah. Tujuan incision ini ialah untuk kesuburan di samping untuk mempermudah hubungan seks.
1930b “Lijkbezorging bij de To Bada” (Mengurus jenazah pada orang Bada’) Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië 86(3/4): 572-611. Artikel ini menguraikan mengenai konsep kematian dan akhirat (kehi- dupan setelah kematian), dan legenda-legenda mengenai kematian di kalangan orang Bada’ dan penduduk Sulawesi Tengah lainnya seperti. orang Napu, Leboni, dan Besoa. Penduduk Bada’ amat percaya pada tanda-tanda yang dianggap pra-lambang akan terjadinya peristiwa kematian baik yang berasal, dari binatang, (suara burung misalnya), jenis-jenis tumbuhan tertentu, dan gejala alam (pelangi misalnya). Mengenai penguburan disebutkan ada beberapa cara, exposure atau alam peti kayu. Dibedakan pula penguburan bagi yatim piatu, budak atau orang asing. Juga antara anak pertama, kedua dan seterusnya, Secara adat penguburan anak pertama dengan ‘anak kelima caranya sama namun berbeda dengan anak kedua dan keenam dan sebagainya.
2000 Dengan Elisabeth Woensdregt, and Nol Kraan. Twee Blijde Boodschappers: Brieven Uit Bada Van Jacob En Elisabeth Woensdregt, 1916-1928. (Dua Utusan Senang: Surat Dari Bada Dari Yakub Dan Elisabeth Woensdregt, 1916-1928) (Zoetermeer: Boekencentrum).